Dulu, ya dulu sekali, gue pernah suka nulis-nulis beginian. Sekarang sih udah hampir tidak pernah. Tapi kalo dikumpulin ga ada salahnya kali ye? Itung-itung kenang-kenangan. Siapa tau, suatu hari nanti, masih ampuh dipake
——
ada pernah aku berharap sepetik cinta akan singgah lagi di sini
meski hampir beku, hampir kelu gejolak hati
yang dulu pernah begitu akrab mengisi hari
bukan, bukan padamu lagi harapan itu aku sangkutkan
musim yang usai dan datang lagi sudah jadi pengakuan
tak mungkin sepercik harap kusisakan untuk buku lama yang sudah usang dimakan zaman
tapi tak kunjung ada getar gemetar di bilik hati yang hampir mati diguncang perih
tak sedetik, tak sepercik pernah singgah rasa yang dulu pernah memanjakan hari
ataukah engkau yang demikian jumawa
sehingga semua yang kupunya terbenam di luka lama?
20062003
————-
empat tangkai kembang kusematkan di buku harian kita malam ini
tentu kau masih ingat buku itu
970 halaman sudah kita tulis di sana, satu per satu
entah berapa yang kau tulis sendiri, dan berapa yang kutulis sendiri
dan berapa yang kita tulis bersama, aku pun tak tahu pasti
tapi satu masih kuingat sampai hari ini
385 halaman sudah kosong tak ada isi…
hanya lembar-lembar putih yang semakin kumal karena kubuka setiap hari berharap mendadak ada tulisanmu muncul menghibur hati
385 halaman aku nanti, dan tak kunjung datang kau menulis di sana
bahkan tidak satu aksara
kuputuskan, tidak akan kubiarkan lembaran kosong lebih banyak dari lembaran yang berisi
kuikat buku itu dengan tali, erat2, dengan harapan tak akan dibuka lagi
dan ini
empat tangkai bunga kusematkan di buku harian kita malam ini
satu untukmu
satu untukku
satu untuk pertemuan kita
dan satu lagi, untuk perpisahan kita
17052003
—–
dia menciumnya di penghujung senja antara kecemasan dan ketidakpastian
madu bibirnya tak pernah hilang dari ingatan
dalam balutan mata sayu
dan pandangan tajam tanpa malu-malu
ia menciumnya lagi sebelum senja berikutnya tiba
sedikit tergesa dan terburu-buru
dan ketika senja itu tiba
mulutnya masih sedikit membuka
dengan nafas yang gagap dan patah-patah
esok, lusa, dan hari berikutnya
tak ada lagi ciuman membasuh bibirnya
karena senja tak lagi terbit di sana
24042003
—–
jangan pernah katakan cinta
kau, aku, kita tau
itu hanya penghias bibir di belantara nafsu kita yang tak pernah usai meski matahari telah berulangkali mendelik muak dari jendela kaca ini
jangan pernah katakan sayang
kau, aku, kita bukan lagi anak2 beranjak dewasa
yang bermimpi tiga kali sehari dengan satu bisikan tak berarti di sudut telinga
jangan pernah katakan benci
percik ujung matamu pun tak bisa menyembunyikan nyala yang bergolak di pelataran hatimu
katakan saja kau butuh aku atau tidak
dan kita cukupkan kata-kata sampai di sini
13032003
———
aku jatuh cinta padamu,
senja yang jatuh di ujung dedaunan sore musim kemarau
aku jatuh cinta padamu,
senja yang muram seusai hujan yang kelabu
aku jatuh cinta padamu,
karena kau selalu datang
dan dia tidak
02032003
————
karena kita satu
karena kita satu
makan jangan katakan engkau rindu padaku
tak semestinya terbersit rasa itu di antara kita
karena bukankah aku ada padamu
begitu dekat, begitu rapat?
karena kita satu
jangan tanyakan apakah aku cinta padamu
setiap inchi, setiap jengkal, setiap titik di sini….
membiaskan setiap inchi, setiap jengkal, setiap titik pada dirimu
bisakah kutanyakan… apakah aku cinta pada diriku ?
karena kita satu
biarlah tak ada lagi aku atau engkau
karena mereka telah melebur dalam kita
28022003
———–
pernahkah rasakan kecut daun tembakau dalam rokokku?
mungkin dia akan memberitahumu gerak pikirku satu per satu
atau bisa jadi asap putihnya akan memecah di ujung hidungmu
singgah sejenak, sebelum angin menjemputnya untuk menyatu
pernahkah rasakan pahit kafein dalam kopiku?
setitik gula kutambahkan, sejumput rasa manis mengusap lidahmu
terbersitkah sedikit dalam hatimu
secercah saja tarikan bibirmu menjadi anugerah?
pernahkah dengarkan nada demi nada di senar gitarku?
ada cinta, ada sendu, ada tawa, ada airmata berderai di situ
tapi masihkah kau dengar semuanya bercerita tentang dirimu?
kalau saja rokokku, kopiku, laguku
—-menyisipkan pesan yang dapat kau tangkap dengan hatimu
kenapa justru tak pernah ada percaya bagi mulutku?
ataukah… aku kembali harus diam dan bisu
16032002/043252
—————
Satu Demi Satu
Satu satu kau hilang dari kenangan
ada pedih ada tawa
ada perih ada ceria
semua punya warna, semua punya cerita
kalau pupus lembayung senja dari kenangan
maka biarkan malam merubung dalam temaram
tak bisa hanya matahari membawa gembira
karena pekat pun indah di kesunyiannya
satu demi satu semua lepas dari ikatan
kalau usai semua cerita sudah dibukakan
maka biarkan hening menerjemahkan semua perasaan
tak bisa hanya kata membawa makna
sebab diam pun menjadi jawab yang tak kurang ampuhnya
satu demi satu semua pudar dari ingatan
kalau usai semua dilakukan bersama-sama
maka berjalanlah sendiri tak perlu beriringan
tak cukup hanya kebersamaan menunjukkan peduli
sebab sendiri pun tak pernah menghapus hadirmu di sini
satu demi satu
menjadi buku harian
satu dua purnama menjadi kesedihan
satu dua musim menjadi kenangan
satu dua tahun menjadi tertawaan
satu dua dekade menjadi perenungan
21052002/2054
—————————-
katakanlah aku bisa menjadi embun
apakah engkau akan merasa sejuk karenanya ?
katakanlah aku bisa menjadi matahari
apakah engkau akan merasa hangat oleh sinarnya ?
katakanlah aku bisa menjadi hujan
apakah kau akan mencari payung untuk berteduh darinya ?
atau apakah akan kau biarkan dirimu basah olehnya?
katakanlah aku bisa menjadi kumbang
akankah kau berikan sedikit madu untukku ?
katakanlah aku bisa menjadi sebuah lagu
akankah kau mau menuliskan syairnya ?
dan katakanlah aku sekarang ingin mengatakan semua ini kepadamu
adakah jawaban darimu untuknya ?
sudahlah, malam semakin larut
dan entah kenapa kegilaan ini tak jua surut
selamat malam, semoga mimpimu menjadi nyata
01082001/0215
———————
bukan, bukan kepergianmu yang menggantung tawaku
cepat atau lambat
toh kematian akan menjemput tubuh yang fana ini
mestinya perpisahan tak perlu beriring tangisan
bukan pula kata-katamu yang menyakitkan hati
jika memang begitulah adanya
cepat atau lambat semua kata akan terungkap juga
karena pikiran atau hati bukanlah tempatnya
hanya angan dan kenang-kenangan ini
yang membunuhku setiap hari
ia tidak mengambil nyawaku, tidak
ia hanya mengambil tawaku…
memenjarakan senyumanku…
membelenggu semua perasaanku…
mengunci semua inderaku…
hanya pada kenang-kenangan tentangmu
18022003
—————–
ada satu masa di antara senja
yang selalu membuatku yakin kalau senja memang pantas dikenang
ketika ujung matahari hampir redup
pancaran cahayanya tetap sama
tidak menguat, pula tak melemah
13022003
—————–
senja hari ini begitu miris
hanya ada mendung murung mengurung
bersama petik-petik air hujan yang menyapa bumi dalam bisu
senja hari ini begitu mengiris
tak ada engkau, hanya ada bayanganmu
kadang-kadang kupikir
kenapa mukamu begitu sering menggoda angan
padahal kau tak cantik, tak juga istimewa
begitu biasa, begitu tak bercahaya
mestinya aku tertarik oleh matahari
setiap hari memberi hangat, semua orang pasti terpikat
tapi senja seperti senja hari ini
bukan senja yang keemasan
bukan pula senja yang indah dan temaram
yang selalu mengingatkanmu padaku
apakah memang kisah kita dulu begitu kelam?
Februari 2003
——————–
ada saat di mana aku begitu mengenangmu
entah kenapa percik-percik kenangan itu
————— tak kunjung terhapus waktu
kadang datang, kadang menghilang,
kadang temaram, kadang gemilang….
tidak, sungguh bukan kemauanku
kau pun tahu bagaimana semuanya yang terjadi dulu begitu merusak hari-hariku
aku ingin menyimpannya sebagai kenangan, mungkin
tapi kenapa ia selalu muncul sebagai kesedihan?
Juni 2003
—–
ada darah mengalir hari ini
dari ujung-ujung kota kita
merayap cepat menggenangi semua pelosok kota
semua merah, semua berdarah
anak-anak kecil bermandi darah dengan ceria
anak-anak remaja melihat darah dengan tawa
bapak-bapak tua minum darah dengan gembira
ibu-ibu menyeduh darah dengan gula
aku tercenung dengan putihku yang terakhir
merasa aneh ditengah lautan darah merah, getir
ada darah mengalir hari ini
hanya sesaat,
sebelum bulan purnama pun menjadi merah
aku membasuh putihku yang terakhir dengan darah
dan tertawa
karena aku tak lagi berbeda


13 comments
Comments feed for this article
Trackback link
http://www.jejaklangkah.net/blog/pojok-sajak/trackback/
March 18, 2005 at 10:00 am
WinNT
Alamak jang!!!!!!!!!!!
Mantap kali nya si wak Ulus nie…
Yang salah nya kau masuk elektro dulu… Masuk aja kau sastra indonesia di USU..
Biar lulus, bisa jadi sastrawan.. sekalian ngajar di BIMA atau MEDICA (itung2 balas jasa dulu jadi anak TU)…
Wekekekekekeke…
April 6, 2005 at 12:03 pm
deLango
wahai abang,
kenapa tidak kaw wariskan kemampuan berkata-kata kaw itu kepadaku? kenapa cuma paham linux-isme sajah yang kaw racunkan ke aku? :p
June 30, 2005 at 4:44 pm
hastinWisePhoenix
Aaaarrrghhh,
jadi yang anak sastra itu sebenarnya lu atau gue?
July 7, 2005 at 6:23 pm
ß
ß mau comment, tapi syusyah, kerana sonde ada judulnya….
Ya udah,
Yang paling banyak huruf “K”-nya, “rasa”-nya udah bisa diapresiasi sekilas dengan melihat banyaknya jumlah huruf K…. It’s forte + stacatto!
Yang paling banyak huruf “S”-nya –> piannissimo… melancholic….
Tapi tetap kerasa tegasnya.
July 14, 2005 at 7:34 pm
tjita
Abaaaaaaangggg!!! Long time no see. Sebenernya iri bercampur kagum, abis makin tua kau makin fasih saja mendaraskan kata-kata.. cieeehh…
Tapi kayaknya nuansanya penuh cinta sekarang… lil’ bit soft somehow..
Kapan kau curhat lagi ama adekmu ini???
July 15, 2005 at 7:49 pm
sinaga
amangoi amang….hebat nai fuangg.. sai nirippu do dang diboto lakkam mar puisi …hape jengger nai do hape.. okeh lanjut ma ate ..
January 3, 2006 at 10:47 am
intang
Walah… Walah… Walah…
January 6, 2006 at 3:11 pm
rls
berapa panjang sih commen yang bisa ditampung kotak hijau tipis ini? karena aku mengenal senjamu dan menemukannya mirip dengan senjaku, aku ingin memperkenalkan senjaku ke kamu, tapi khawatir tempatnya nggak cukup luas.
February 9, 2006 at 10:58 pm
joko irianto ham
DEWI. Bak burung elang. Di tengah matahari penat, sang elang enggan mengatupkan sayap. Senyatanya, hari-hari kamu kian lelah. Haus. Lapar. Sunyi. Ada yang ibah. Mata kamu mendadak berbinar merah. Selalu. Tak ada yang berani. Kamu paksa tegar melebihi elang lelaki. Ada yang pernah terbirit. Selalu. Pun kamu gigit bibir bawah yang ranum. Tersenyum. Sekejap kamu mendongak ke langit. Menangis, segera kamu usap dengan sayap. Melirik sekeliling sepi, kamu merunduk. Segera kamu paksa mata tajam berbinar. Pernah, lain hari, mendongak ke langit. Menjerit. Mengadu. Merajuk. Cengeng bagai burung kutilang. Sesaat. Pun sayap tak cukup mengembang. Mengepak isyarat, “Akulah sang perkasa, akulah Tuan Puteri!”
Suatu malam. Senyap. Sepi. Mata-mata lelap di perbaringan. Kamu sulit terpejam. Lunglai. Air mata kamu biarkan meleleh. Sampai tak kuasa menghentikan. Nafasmu sesak, tedesak doa-doa kerinduan. Sekejap muncul keinginan jadi cendrawasih, yang sejatinya kamu benci. Sekejap terbuai bulu indah kelinci, yang semestinya kamu terkam. Sekejap terjaga guyonan kasih bunda dan anak kucing anggora. Sekejap terlelap. Sekejap terjaga. Sekejap kamu lupakan kebeningan llarut malam. Selalu. Rentang waktu adalah pilihan, Dewi! (Surabaya, 9 Februari 2006)
May 12, 2007 at 2:52 pm
evi
Woww…. *)
February 6, 2008 at 10:43 am
blalang_kupukupu
salam kenal aja
puisinya lumayan
hehehe
August 13, 2008 at 12:46 pm
tsumaya
WOW Luar biasa…
kata-katanya seperti untuk diriku…hiks
merinding bo
Bravo bang, bagus sekali…
Jangan putuskan semangat menulismu
Pasti akan lahir puisi-puisi lain yang
lebih dahsyat
September 25, 2008 at 2:46 pm
tya
reading your poems again reminds me of the old days when we used to hang out together with others in front of KMK’s room