Premium oh premium
Dengan kondisi harga minyak internasional yang naik secara konsisten sepanjang tahun, bukan lagi rahasia umum kalau anggaran pemerintah kemudian menghadapi tekanan, terutama oleh tingginya subsidi terhadap bahan bakar minyak. Karenanya, adalah keniscayaan bahwa lambat laun, akan terjadi perubahan kebijakan di sektor ini. Menyusul kebijakan untuk menggantikan minyak tanah dengan gas untuk konsumsi rumah tangga, pemerintah mengumumkan rencana pengurangan subsidi bahan bakar minyak untuk kendaraan-kendaraan pribadi. Meski termasuk pemakai kendaraan pribadi
, bagi saya pribadi, kebijakan itu adalah kebijakan yang logis. Ledakan kendaraan pribadi yang tidak terkontrol, terutama di kota-kota besar, berperan sangat besar dalam meledaknya konsumsi BBM. Saya rasa tidak perlu data-data akurat tertulis untuk hal ini, fakta-fakta di lapangan, terutama di kota-kota besar sudah mencerminkan kecenderungan ini. Tidak masuk akal kalau pemerintah terus menerus mensubsidi pemakai kendaraan pribadi, sementara pasar internasional menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah. Belum lagi, sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia, ironisnya, sudah menjadi net-importir di pasar minyak.
Meski demikian, hal paling mengganggu dari kebijakan energi pemerintah ini adalah tidak adanya suatu blueprint yang jelas tentang bagaimana mengatasi konsumsi BBM terutama oleh kendaraan-kendaraan pribadi, terutama di kota-kota besar. Tidak bermaksud melakukan generalisasi, tetapi alasan utama saya menggunakan kendaraan pribadi adalah tidak tersedianya moda transportasi massal yang aman, handal, memadai, dan terjangkau di Jakarta.
- Bus kota. Tengok kondisi mikrolet, bis-bis seperti metromini, kopaja, serta bis-bis lain yang ada di di Jakarta. Pelayanan yang sangat minim, dengan kendaraan-kendaraan yang seharusnya sudah masuk musium, sudah jelas bukan pilihan yang menyenangkan. Sebutlah saya manja dan belagu karena tidak mau memakai kendaraan umum, tetapi jujur saja, 2 kali ditodong handphone di atas bis, serta cerita kriminalitas di bis kota yang seperti tidak ada habisnya, belum lagi bicara kenyamanan, membuat saya cenderung memutuskan untuk mengeluarkan uang ekstra untuk moda transportasi sehari-hari. Walaupun ada bonus tambahan, macet
. But hey, naik bis kota juga macet kok, jadi trade-off hanya ada di biaya. - Taksi. Jelas bukan pilihan, bahkan walaupun perbandingannya adalah kendaraan pribadi.
- Busway. Moda transportasi baru di Jakarta yang selalu dituding sebagai sumber bertambah parahnya kemacetan di Jakarta ini belum juga mampu menjadi moda transportasi yang nyaman dan handal. Kondisi kendaraan yang sepertinya semakin hari semakin jelek (kok sepertinya tidak ada perawatan ya??), jalan khusus yang selalu dan selalu diperbaiki karena lubang di sana-sini, jadwal yang tidak jelas, ketidakmampuan menampung komuter pada jam-jam sibuk yang berujung pada kepadatan bis yang kadang-kadang tidak manusiawi. Belum lagi konsep feeder yang dulu dicetuskan bersama busway yang entah kemana juntrungannya yang mengurangi efektivitas akses.
Seperti saya sebut di atas, saya tidak menentang kebijakan pengurangan subsidi BBM bagi kendaraan pribadi (berdoa dan berusaha saja, supaya penghasilan bulanan dapat menjangkau Pertamax tahun depan
). Tetapi mbok kalau bikin kebijakan itu yang holistik, tidak sepenggal-sepenggal. Kalau solusinya hanya menghilangkan subsidi BBM kendaraan pribadi, tanpa ada alternatif untuk moda transportasi terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, saya kira kebijakan ini hanya akan berujung di satu dari dua hal :
- Pertama, orang tetap akan menggunakan kendaraan pribadi. Karena kalau kita pasang hitung-hitungan sekarang ini, perubahan dari premium ke pertamax untuk kendaraan pribadi, bagi pemakai kendaraan pribadi kurang lebih berarti kenaikan harga BBM sekitar 50%. Walaupun angka 50% ini sepertinya signifikan, tapi kalau melihat kecenderungan cara masyarakat menanggapi kebijakan pemerintah terkait BBM, kok saya merasa pemakai kendaraan pribadi cenderung akan menyesuaikan diri dengan hal ini ya? Paling-paling minta kenaikan gaji, atau kenaikan insentif transportasi. Berpindah ke kendaraan umum? Jujur saja, sepertinya kemungkinan ini kecil. Kalau ini yang terjadi, pemerintah akan diuntungkan, tetapi pemilik kendaraan pribadi tidak akan mendapat insentif apapun. Kasihan betul kaum kelas menengah ya? Padahal, pemilik kendaraan pribadi tidak semua pemakai Volvo atau Mercy, definisi bapak Jusuf Kalla tentang orang kaya, yang berarti tidak semuanya orang kaya.
- Kedua, kita akan melihat ledakan pemakaian motor yang sangat signifikan. Saya cenderung berpikir, situasi ini yang akan terjadi. Gampang saja, tidak dikontrolnya jumlah kendaraan bermotor yang beredar di pasaran (baik mobil maupun motor), kemudahan financing pemilikan motor, serta kenyataan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan subsidi untuk konsumsi motor, sudah cukup menjadi alasan untuk pemakai kendaraan pribadi berpindah ke motor. Kalau ini yang terjadi, Jakarta harus siap-siap menghadapi ledakan motor dalam jumlah signifikan di tahun 2008. Mungkin sudah waktunya Gubernur jakarta mempertimbangkan pemakaian satu jalur jalanan khusus untuk motor
.
Bagaimana menurutmu?
Powered by ScribeFire.
about 4 years ago
kalau bicara impact mungkin untuk komuter kelas menengah atas di seputaran jakarta (bogor, bekasi, tangerang, bintaro, serpong, dll) akan cenderung pindah moda transportasi ke KRL AC / KRL Express. dengan interkoneksi transportasi dari stasiun ke tempat kerja. Karna kalau dihitung biayanya akan jauh lebih murah dibanding dengan mobil pribadi dari botabek ke jakarta (biaya disini adalah biaya transportasi dan “biaya” psikologis karna stress/depresi karna macet yg menggila.
Untuk komuter kelas menengah bawah kemungkinan besar akan berpindah ke moda transportasi motor. sudah bukan rahasia lagi kalau moda yg satu ini paling irit, paling gesit, paling ekonomis perawatan, dll.
hukum yang berlaku disini adalah bahwa KENYAMANAN SELALU BERBANDING TERBALIK DENGAN KEAMANAN. tinggal kita mau pilih mana.
Untuk yg pertama (KRL) mungkin tidak ada dampak ikutan tapi untuk yg kedua maka pemerintah c.q. pemda DKI harus mempertimbangkan utk mengakomodir tumpah ruahnya motor di jalanan raya jakarta tahun2 mendatang. caranya ya kita serahkan ke pemda yg terhormat.
-just my two cents-
about 4 years ago
tapi… coba lihat kalau libur gini …. di saat kendaraan2 pribadi pada parkir di garasi atau lagi di luar jakarta …. JAKARTA LENGANG !!!
yah.. smuanya ada 2 sisi kali ya. buat pengguna kendaraan pribadi, pembangunan jalur busway meresahkan. Tapi di sisi lain -seperti daku- agak2 menaruh harapan pada salah satu jalur yg baru … pengennya bisa ngacir dr rmh ke kantor, supaya bisa cepat sampe di rmh ketemu si kecil yg slalu udah kehausan.
jalur khusus buat motor? hehe.. ini ide bagus loh, tapi kok ya byk pengguna motor yg malah akan menentang? terus.. kalau daku naek motor, kok ya yg paling bikin takut tuh justru pengguna motor yg laen loh. Palagi kalau sama2 lepas lampu merah… hiiiiiiii
about 4 years ago
gemes ah sama istilah busway, itu kan arti harfiahnya jalur bis….
Kalo moda kendaraanya sepertinya lebih tepat kalo kita menyebutnya transjakarta, atau entah apa namanya. Tapi jangan menyebutnya busway dong….