Archive for December, 2007
Premium oh premium
Dec 5th
Dengan kondisi harga minyak internasional yang naik secara konsisten sepanjang tahun, bukan lagi rahasia umum kalau anggaran pemerintah kemudian menghadapi tekanan, terutama oleh tingginya subsidi terhadap bahan bakar minyak. Karenanya, adalah keniscayaan bahwa lambat laun, akan terjadi perubahan kebijakan di sektor ini. Menyusul kebijakan untuk menggantikan minyak tanah dengan gas untuk konsumsi rumah tangga, pemerintah mengumumkan rencana pengurangan subsidi bahan bakar minyak untuk kendaraan-kendaraan pribadi. Meski termasuk pemakai kendaraan pribadi
, bagi saya pribadi, kebijakan itu adalah kebijakan yang logis. Ledakan kendaraan pribadi yang tidak terkontrol, terutama di kota-kota besar, berperan sangat besar dalam meledaknya konsumsi BBM. Saya rasa tidak perlu data-data akurat tertulis untuk hal ini, fakta-fakta di lapangan, terutama di kota-kota besar sudah mencerminkan kecenderungan ini. Tidak masuk akal kalau pemerintah terus menerus mensubsidi pemakai kendaraan pribadi, sementara pasar internasional menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah. Belum lagi, sejak beberapa tahun terakhir, Indonesia, ironisnya, sudah menjadi net-importir di pasar minyak.
Meski demikian, hal paling mengganggu dari kebijakan energi pemerintah ini adalah tidak adanya suatu blueprint yang jelas tentang bagaimana mengatasi konsumsi BBM terutama oleh kendaraan-kendaraan pribadi, terutama di kota-kota besar. Tidak bermaksud melakukan generalisasi, tetapi alasan utama saya menggunakan kendaraan pribadi adalah tidak tersedianya moda transportasi massal yang aman, handal, memadai, dan terjangkau di Jakarta.
- Bus kota. Tengok kondisi mikrolet, bis-bis seperti metromini, kopaja, serta bis-bis lain yang ada di di Jakarta. Pelayanan yang sangat minim, dengan kendaraan-kendaraan yang seharusnya sudah masuk musium, sudah jelas bukan pilihan yang menyenangkan. Sebutlah saya manja dan belagu karena tidak mau memakai kendaraan umum, tetapi jujur saja, 2 kali ditodong handphone di atas bis, serta cerita kriminalitas di bis kota yang seperti tidak ada habisnya, belum lagi bicara kenyamanan, membuat saya cenderung memutuskan untuk mengeluarkan uang ekstra untuk moda transportasi sehari-hari. Walaupun ada bonus tambahan, macet
. But hey, naik bis kota juga macet kok, jadi trade-off hanya ada di biaya. - Taksi. Jelas bukan pilihan, bahkan walaupun perbandingannya adalah kendaraan pribadi.
- Busway. Moda transportasi baru di Jakarta yang selalu dituding sebagai sumber bertambah parahnya kemacetan di Jakarta ini belum juga mampu menjadi moda transportasi yang nyaman dan handal. Kondisi kendaraan yang sepertinya semakin hari semakin jelek (kok sepertinya tidak ada perawatan ya??), jalan khusus yang selalu dan selalu diperbaiki karena lubang di sana-sini, jadwal yang tidak jelas, ketidakmampuan menampung komuter pada jam-jam sibuk yang berujung pada kepadatan bis yang kadang-kadang tidak manusiawi. Belum lagi konsep feeder yang dulu dicetuskan bersama busway yang entah kemana juntrungannya yang mengurangi efektivitas akses.
Seperti saya sebut di atas, saya tidak menentang kebijakan pengurangan subsidi BBM bagi kendaraan pribadi (berdoa dan berusaha saja, supaya penghasilan bulanan dapat menjangkau Pertamax tahun depan
). Tetapi mbok kalau bikin kebijakan itu yang holistik, tidak sepenggal-sepenggal. Kalau solusinya hanya menghilangkan subsidi BBM kendaraan pribadi, tanpa ada alternatif untuk moda transportasi terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, saya kira kebijakan ini hanya akan berujung di satu dari dua hal :
- Pertama, orang tetap akan menggunakan kendaraan pribadi. Karena kalau kita pasang hitung-hitungan sekarang ini, perubahan dari premium ke pertamax untuk kendaraan pribadi, bagi pemakai kendaraan pribadi kurang lebih berarti kenaikan harga BBM sekitar 50%. Walaupun angka 50% ini sepertinya signifikan, tapi kalau melihat kecenderungan cara masyarakat menanggapi kebijakan pemerintah terkait BBM, kok saya merasa pemakai kendaraan pribadi cenderung akan menyesuaikan diri dengan hal ini ya? Paling-paling minta kenaikan gaji, atau kenaikan insentif transportasi. Berpindah ke kendaraan umum? Jujur saja, sepertinya kemungkinan ini kecil. Kalau ini yang terjadi, pemerintah akan diuntungkan, tetapi pemilik kendaraan pribadi tidak akan mendapat insentif apapun. Kasihan betul kaum kelas menengah ya? Padahal, pemilik kendaraan pribadi tidak semua pemakai Volvo atau Mercy, definisi bapak Jusuf Kalla tentang orang kaya, yang berarti tidak semuanya orang kaya.
- Kedua, kita akan melihat ledakan pemakaian motor yang sangat signifikan. Saya cenderung berpikir, situasi ini yang akan terjadi. Gampang saja, tidak dikontrolnya jumlah kendaraan bermotor yang beredar di pasaran (baik mobil maupun motor), kemudahan financing pemilikan motor, serta kenyataan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan subsidi untuk konsumsi motor, sudah cukup menjadi alasan untuk pemakai kendaraan pribadi berpindah ke motor. Kalau ini yang terjadi, Jakarta harus siap-siap menghadapi ledakan motor dalam jumlah signifikan di tahun 2008. Mungkin sudah waktunya Gubernur jakarta mempertimbangkan pemakaian satu jalur jalanan khusus untuk motor
.
Bagaimana menurutmu?
Powered by ScribeFire.
Life is short, have an affair
Dec 4th
It was raining earlier this morning, so I spent the morning longer in the house. I was watching Star World when I happened to catch The Ellen DeGeneres show. That’s where Ellen brought the quote Life is short, have an affair to my attention. Apparently, it’s a quote taken from a billboard somewhere in Hollywood, and is an advertisement from a dating website ashleymadison.com
I have to admit, it is an intriguing quote. And it has triggered controversy as well. And I bet, there must be something in your mind too, if you see such quote on your road every day to the office, right?
.
Despite the whole controversy surrounding the quote, it’s definitely a good marketing campaign. The website even put in their website “As seen on Ellen DeGeneres”. I don’t know whether they paid Ellen to mention their website in the show though.
So, what do you think of “life is short, have an affair”
Powered by ScribeFire.
Bitter
Dec 3rd
On the wedding of Timot and Agnes, I happened to met some of my old friends in college. Those whom I was close with, but then lost contact with as I dived into this dark, boring, busy working life. I once wrote here, that meeting old friends are always recharging, with the old romanticism, laughing at each other, remembering those memories we dearly love. I still enjoyed that, of course, spending an evening with them on Bakmi GM, just talk.
Yet last encounter with my friends had additional perk in it, a comment from a friend. She said to me over a text message “You are far from what I imagined you will be 10 years ago. You’re bitter, yet kinder, undoubtedly more pragmatic”. What a comment
.
Bitter ? I would say that I am. Well, I have tended to be a bitter person from early stages, from my beginning. I often looked the world in a pessimistic way, more on the downside of the life than on the upside. Some friends said I’m not that kind of “positive person”. I ain’t nobody to judge whether being bitter or positive is better. Of course, being a positive person has its advantage, in which life seems to be easier, that every fall has its meaning, and that there is this cosmic plan for all of us, where at a certain point of our life, life will reveal itself in a beautiful way.
Well, is it? I dunno, but I tend not to believe that. I often look at the downside of life, at the problems and the sufferings. I tend to look at what I haven’t achieved, rather that what I have achieved ; on where I failed, rather on than on where I succeed. it’s tiring, I know, but well, that’s how I choose to look at it.
Are you a bitter person? or more of a positive ones?
Powered by ScribeFire.
Recent Comments