Jejak Langkah Seorang Pelamun
Resensi : Eleven Minutes
Title : Eleven Minutes
Author : Paulo Coelho
Publisher : Harper Collins Publisher, June 2004
A young girl from Brazilian village, Maria’s first innocent brushes with love leave her heartbroken, convincing her at a tender age that “love is a terrible thing that will make you suffer”. When a chance meeting in Rio takes her to Geneva, she dreams of finding fame and fortune. Instead, she ends up working as a prostitute. Drifting farther and farther away from love, she develops a fascination with sex. But her despairing view of love will be put to the test when she meets a handsome young painter and must choose between pursuing a path of darkness – sexual pleasure for its own sake – or risking everything to find her own “inner light” and the possibility of a “sacred” sex in the context of love.
(as quoted from the back of the book)
Paulo Coelho menulis tentang sex? It’s a very “wild” combination indeed, and it’s the first thing that invites to me to buy this book, at the Juanda airport, Surabaya, while I was on my way back after attending my friends’ wedding, Andre and Suci. I spent the whole time in the flight reading the book, and it kept me occupied even after I arrived in my room.
Adalah Maria, gadis muda yang dikecewakan cinta sedemikian dini di masa hidupnya, oleh anak laki-laki cinta pertamanya yang bahkan tidak berani untuk lebih dari sekedar meminjam pensilnya. Pengalaman masa-masa remajanya, perkenalan dengan seksualitas dan dengan hubungan lelaki perempuan, membangun ketidakpercayaannya pada cinta, sedemikian rupa sehingga dalam catatan hariannya, ia menulis demikian :
Although my aim is to understand love, and altough I suffer to think of the people to whom I gave my heart, I see that those who touched my heart failed to arouse my body, and those who aroused my body failed to couh my heart (pg. 19)
Tidak ingin hidupnya berakhir biasa-biasa saja, determinasi yang tinggi membawa Maria merantau untuk pertama kali ke Geneva, semula bekerja sebagai seorang penari. Seperti umumnya, tokoh-tokoh utama Coelho, Maria adalah seorang manusia dengan kesadaran reflektif yang tinggi, dengan determinasi yang sangat kuat untuk belajar dan merubah hidup. Pergulatan batin yang dilukiskan dengan sangat menarik oleh Coelho, dari pertama kali menjadi prostitusi lepasan, sampai masuk ke dalam industri prostitusi itu sendiri, membawa Maria tumbuh menjadi seorang prostitusi kelas atas. Semakin jauh menguburkan cinta di dalam hatinya, Maria bertemu dengan segala macam lelaki dari segala lapisan, dan lewat matanya, Coelho menelaah, menelanjangi pandangan masyarakat tentang seksualitas, sesuatu yang secara sosial sering dianggap tabu, dan hanya dipresentasikan dalam bentuk-bentuk yang implisit. Tapi bertemu dengan seorang pelukis muda yang mengajarkannya tentang “kesucian seksualitas”, Maria dikonfrontasikan kembali pada cinta yang telah jauh ia pendam, dan menemukan kembali cinta, yang sesungguhnya sangat dia rindukan jauh di lubuk hatinya.
Cuplikan buku harian Maria, yang mencerminkan pergulatan batin dan refleksi pribadi yang mendalam, adalah bagian sangat penting dari buku ini. Lewat catatan buku harian ini, Coelho memotret pengalaman hidup seorang prostitusi, sekaligus menumpahkan pandangan-pandangannya tentang cinta, seksualitas, serta kritik-kritiknya tentang kedua topik ini. Ambil beberapa bagian ini sebagai contoh :
All men, tall or short, arrogant or unassuming, friendly or cold, have one characteristic in common : when they come to the club, they are afraid. … Afraid of what? I’m the one who should be shaking. I’m the one who leaves the club and goes off to a strange hotel, and I’m not the one with superior physical strength or the weapons. Men are very strange, …. They can beat you up, shout at you, threaten you, and yet they’re scared to death of women really. (pg. 83)
Atau :
After all the time I’ve spent with the people who come here, I have reached the conclusion that sex has come to be used as some kind of drug: in order to escape reality, forget about problems, to relax. And like all drugs, this is a harmful and destructive practice.
Secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk dibaca, terutama untuk menilai kembali, pandangan pribadi kita tentang cinta dan seksualitas (kalaupun ada
). Meski saya tidak begitu mengerti, kenapa penjelasan tentang sadomachochist (did i spell it right??) mengambil porsi yang cukup signifikan. Entah Coelho berusaha menampilkan betapa jalan kegelapan itu mengambil porsi yang menghancurkan sekaligus memuaskan pada saat yang sama, atau untuk alasan lain, saya tidak begitu menyukainya. Juga terus terang, saya tidak suka endingnya. Entah itu adalah konsekuensi logis dari penemuan cinta Maria, tapi saya kok merasa, ending itu terlalu “Hollywood”. Ah, itu tentu preferensi pengarang
.
about 5 years ago
Well, gue gak terlalu suka buku yang ini. Somehow, gak bisa nangkep korelasi dari kisah Maria dari satu pria ke pria lain. Mungkin juga ngerasa canggung dengan tuturan Paolo tentang sex. Dari beberapa buku Paolo yang udah gue baca, ini yang paling gak kena. But thanks buat ulasannya, Lus. Dulu gara-gara baca ulasan The Fifth Mountain gue jadi baca buku itu dan gue suka banget cara Paolo memandang hubungan manusia dengan Tuhan. Keep writing yaaa?!!!!
about 5 years ago
Aku membacanya dalam edisi prancis, dan belum selesai…
about 5 years ago
konon katanya, apa-apa yang kelewat murni itu berakibat gak baik. itu termasuk seks yang sadomasokis itu. kelewat menggemparkan sampai-sampai kalo gak hati2 kita bisa Over Dosis dan gak bisa keluar dari sana lagi. Hati-hati dengan pilihan-pilihan kita, hati-hati dengan kepuasan dan keingintahuan yang kelewat besar, harganya kelewat mahal, which is your very soul.
about 2 years ago
membaca seluruh blog, cukup bagus