Jejak Langkah Seorang Pelamun
Tak Bisa Naik Sepeda ???
Sore tadi, ketika sedang minum kopi bersama Andy dan Novi, teman-teman kantor saya, tak sengaja pembicaraan mengarah ke naik sepeda. Bergantian mereka menceritakan pengalaman masa kecil bersama sepeda, terutama ketika jatuh melulu ketika belajar naik sepeda pertama kali
. Saya hanya diam saja, menyimak pembicaraan mereka, meskipun ada sesuatu dalam hati saya yang meletup-letup ingin dibicarakan. Tak tahan lagi, akhirnya saya nyeletuk :
“Gw gak bisa naik sepeda”
“Sumpeh loe??” *Ini gaya khas-nya Novi bicara.
“Yup.”
“Masa sih? Parah banget”
“Ya gw ga pernah belajar naik sepeda, gimana gw mo bisa???”
Ya, saya tak bisa naik sepeda
. FYI, I don’t ride bike (and in that case, motorbike), I don’t ride, and I don’t swim. Heran? Rasanya respon seperti yang diberikan Novi adalah sesuatu yang mungkin saya akan peroleh dari anda semua
.
Malam ini, mengingat lagi pembicaraan tadi, saya jadi ingin bercerita. Mohon maaf, kalau ini kemudian terdengar jumawa atau membanggakan diri
. Sekedar mengenang masa lalu, dan menjelaskan, kenapa saya tak bisa naik sepeda
.
Saya pernah bercerita tentang ayah saya di blog ini. Beliau adalah seorang pecinta matematika, pecinta berat, kalau saya boleh katakan. Yang saya mungkin tak pernah ceritakan, adalah bahwa saya adalah proyek pertama beliau di bidang matematika. Sejauh pengamatan saya, maafkan saya untuk hal ini, ayah saya kelihatannya menginginkan pengakuan akan kemampuan matematikanya. Dan pada masa itu, serta mungkin juga masa sekarang, tingkat keberhasilan seorang guru akan diukur dari keberhasilan anak-anaknya. Dan siapa lagi yang akan menjadi proyek eksperimen pertama, kalau bukan anak sendiri?
.
Kelihatannya, sejak kecil saya sudah menunjukkan potensi kecerdasan yang lumayan, setidaknya menurut ayah dan guru-guru SD saya
. Peluang ini ditangkap oleh ayah saya. Jadilah, Paulus kecil dididik keras untuk menjadi calon jagoan matematika. Sejak kecil, nilai matematika saya terutama, sudah dikontrol oleh beliau. Masuk kelas 4 SD, saya sudah berkutat dengan soal-soal ulangan matematika kelas 5 dan kelas 6. Bahkan sejak kelas 5, saya sudah membantu ayah saya menilai hasil ulangan siswa-siswa yang kelasnya di atas saya. Tak lupa, beliau mengajarkan saya menggunakan mesin tik, sehingga saya bisa membantu beliau mengetik bahan-bahan mengajar beliau. Jadi jangan heran, mesin tik sudah jadi kawan sehari-hari saya sejak usia 10 tahun. Hal yang terus berlanjut sampai saat saya SMA, setiap kali saya pulang kampung dari Medan.
Di kelas 6, saya berhasil memperoleh gelar siswa teladan SD di propinsi Sumatera Utara. Sayangnya, entah untuk alasan yang saya sudah lupa, waktu itu perlombaan siswa teladan tidak dilanjutkan hingga ke tingkat nasional. Impian ayah saya agar anaknya bisa berkiprah di tingkat nasional harus ditunda untuk sementara. Kesempatan itu akhirnya datang ketika ada perlombaan matematika tingkat nasional. Sudah dididik sejak kelas 4, beliau hanya butuh waktu sebentar untuk menggembleng saya ikut kejuaraan. Hasilnya, saya berhasil lolos ke perlombaan tingkat nasional di Jakarta.
Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang, serta pertama kali naik taksi Blue Bird
, sekitar tahun 1991. Begitu semangatnya ayah saya dengan kejadian ini, saya ingat betul, beliau sampai harus mengutang ke tetangga untuk menambah biaya keberangkatan beliau mendampingi saya ke Jakarta. Maklum, beliau datang sebagai pendamping tidak resmi, yang notabene tidak dibiayai oleh pihak propinsi, dan biaya yang diberikan sekolah ternyata tidak cukup untuk membiayai keberangkatan beliau secara pribadi.
Ada pengalaman lucu seputar waktu menuju keberangkatan saya ke Jakarta. Sejak kecil, saya selalu mabuk naik kendaraan umum. Tak sampai 5 menit naik mobil, biasanya saya sudah muntah-muntah (kampung banget ya). Dulu kami kerap berangkat ke Medan untuk bertanding Cerdas Cermat, dan setiap kami berangkat ke Medan, ayah saya selalu memangku saya, dan bisa dipastikan akan menjadi sasaran muntahan saya, dalam perjalanan 8 jam yang sangat menyiksa. Sering kali kami harus berangkat sehari lebih awal, dibandingkan teman-teman saya, Hendra dan Johan, karena saya perlu memulihkan tenaga sesudah mabuk kendaraan umum. Dan ketika hari perlombaan tiba, teman-teman saya akan berangkat ke lokasi perlombaan dengan mobil, sementara saya dan ayah saya akan berangkat terpisah menggunakan becak mesin (becak khas Medan yang bentuknya seperti becak biasa, tapi menggunakan sepeda motor), karena inilah satu-satunya cara untuk saya tiba di lokasi perlombaan tanpa mabuk darat
.
Dengan kondisi seperti di atas, rasanya sangat riskan membawa saya berangkat ke Jakarta. Orang tua saya lantas memutuskan membawa saya ke tukang kusuk (sebutan kampung kami untuk tukang urut). Menurut tukang kusuk, ternyata ada yang salah dengan sistem pencernaan saya, sehingga perut saya harus diurut dua kali dalam seminggu. And believe me, that was one of the most terrible experience I’ve ever had. Lima pertemuan pertama, saya menangis sejadi-jadinya, sampai ibu saya pernah bilang, mendingan saya tidak usah berangkat ke Jakarta, kalau saya harus sebegitu menderitanya. Tetapi hasilnya manjur. Sejak itu, sampai sekarang, tak pernah lagi namanya saya mengalami mabuk darat.
Hasil keberangkatan saya ke Jakarta memang tidak terlalu memuaskan. Saya hanya dapat peringkat 6 waktu itu. Tapi untuk ukuran kota kami Sidikalang, serta kabupaten Dairi yang notabene adalah salah satu kabupaten tertinggal di Dairi, hasil itu amatlah membanggakan. Hasil itu pula yang memacu semangat ayah saya untuk terus berlomba, sebab beliau sudah membuktikan, dengan anaknya sendiri, bahwa kampung kami pun bisa bersaing. Beliau memang tidak pernah menjadi juara satu. Hasil terbaiknya adalah menjadi runner-up lomba matematika tingkat nasional, 3 tahun sesudah zaman saya. Tapi anda boleh tanya ke semua orang di Sidikalang kota, dan kepada orang-orang yang berkutat di bidang matematika SD di propinsi Sumatera Utara, siapa yang tak kenal ayah saya, ha ha ha. Beliau adalah selebritis-nya matematika
. Dan saya bangga, saya pernah menjadi bagian dari itu.
Entah ini ada kontribusinya atau tidak, yang jelas, rasanya masa kecil saya tidaklah terlalu cemerlang secara sosial. Ketika teman-teman SD saya sibuk bermain, belajar naik sepeda, atau berenang di kali, saya sudah sibuk berkutat dengan soal-soal matematika. Ayah saya cenderung overprotektif, bahkan sampai sekarang. Kakak saya pernah ketahuan naik sepeda bersama teman-temannya, dan yang didapatkannya adalah kemarahan dan omelan ayah saya. Dan beliau selalu melarang kami untuk melakukan hal-hal itu. Bagi beliau, yang penting hanyalah belajar di sekolah. Hal-hal lain itu hanyalah background noises. Saya bahkan tidak pernah diizinkan untuk ikut kegiatan pramuka atau camping sampai SMP, karena beliau menganggap hal itu tak ada gunanya, dan hanya akan membuang-buang duit saja
.
Situasi asosial ini terus berlanjut ketika saya pindah ke Medan, untuk melanjutkan SMP dan SMA. Ya, rasanya saya sudah pernah bilang, saya sudah kost sejak umur 12 tahun
. Saya tumbuh menjadi anak yang selalu dinilai berdasarkan ukuran akademis belaka. Saya ingat betul, saya pernah mendapatkan nilai 7 untuk matematika di ulangan saya sewaktu SD. Waktu saya menunjukkan hasil itu kepada ayah saya, beliau melempar kertas ulangan itu ke muka saya, dan tidak mau berbicara kepada saya selama tiga hari penuh. Dan pesan dari beliau kepada kami selalu jelas, kalau nilai matematika kami tidak pernah sampai angka 8, jangan harap ayah saya akan menandatangani hasil tersebut, entah itu raport atau hasil ulangan. Untuk urusan nilai di bawah 8, itu urusan ibu saya
. Di lain waktu, ketika SMA, saya pernah “hanya” memperoleh rangking 3 di kelas. Begitu melihat hasil raport, saya tak berani pulang kampung dan menunjukkan hasil raport kepada ayah saya, sampai saya jatuh sakit di Medan saking cemasnya. Ketika akhirnya saya pulang, saya baru tahu, kalau ternyata ayah saya sama sekali tidak marah kepada saya (mungkin karena saya keburu sakit ya
). Kalau mengingat hal-hal itu, seringkali saya tertawa sendiri. Apalagi kalau saya sedang pulang kampung, dan bercerita dengan orangtua saya, tentang masa-masa lalu, he he he.
Saya tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bergaul, dan lebih banyak berkutat dengan pelajaran. Hasilnya, secara akademis, saya kira saya bisa katakan kalau saya termasuk dalam jajaran anak-anak berprestasi istimewa. Image anak baik, rajin belajar, dan pintar pun melekat dalam diri saya , sampai sekarang jika bertemu dengan anak-anak kampung saya (walaupun mungkin image itu akan duduk berdampingan dengan tambahan culun dan tidak gaul. But hey, this geek has impressed girls with his brain, or let’s say his academic achievement for that sake, more than you can imagine
).
Saya tumbuh dengan anggapan bahwa ketidakbisaan berenang atau naik sepeda itu bukanlah sesuatu yang signifikan. Saya baru menyadari, ternyata hal itu dianggap sebagai sesuatu yang “aneh” ketika saya pindah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah. Kerap kali saya menjadi bahan olok-olokan teman-teman kuliah saya, tapi sejauh ini rasanya saya cuek saja
. Karena terus terang saja, sampai sekarang saya masih sehat-sehat saja tanpa itu semua. Meskipun satu atau dua kali ada penyesalan, kenapa dulu saya tak pernah belajar. Tapi overall, saya tak menyesal, dan tak pernah akan menyesal.
Bisa jadi, kalau saja ayah saya dulu membiarkan saya tetap bermain seperti anak-anak biasa, prestasi belajar saya tetap akan cukup baik. Dan menilik pada praktek pendidikan saat ini, rasanya ayah saya mungkin akan dicap sebagai seseorang yang memaksa anak-nya untuk memenuhi cita-citanya sendiri, memproyeksikan anak untuk ambisi pribadi. Tapi bagi saya, apa yang ayah saya lakukan adalah apa yang paling baik yang pernah saya terima. Dan saya bersyukur karena itu. Hasilnya memang bisa saja berbeda, tapi kita tak pernah tahu. Jika saja semua kemungkinan kita bisa tahu hasil akhirnya, bukankah lantas hidup tak lagi akan menyenangkan?
. Saya tak menyukai sebagian masa kecil saya, tapi saya mengakui kontribusi yang saya alami terhadap apa yang saya capai sekarang, serta sejarah-sejarah yang secara pribadi mengesankan bagi saya.
Jadi, begitulah. Saya tak bisa naik sepeda. Hmmm, tak bisa berenang, dan tak bisa naik sepeda? Kombinasi yang jarang ditemukan rasanya, hari gini, hehehe.
about 6 years ago
Hmm..menarik. Contoh real dari pola didikan terhadap anak yang dianut sebagian besar orang tua yang berprofesi Pendidik / Guru di halak hita terutama yang masih tinggal sumatera utara.
Saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama.
Bedanya dari kecil sudah diajari bawa “kreta” /sepeda motor, hukumnya : wajib bisa! karena perlu buat ngangkat kopi dari kebun atau padi dari sawah/ladang he..he.
btw..dulu SMA-nya dimedan dimana ?
about 6 years ago
Paulus.. gue juga ga bisa naik sepeda dan berenang, krn gue ga telaten belajarnya. padahal awal belajar bareng adek gw. dia terus belajar sampe bisa, gue nggak. somehow gw ga merasa bisa menikmatinya
about 6 years ago
Dulu waktu SD, tiap minggu aku harus les nari bali 2x seminggu, renang 1x seminggu. Walaupun ternyata tidak berbakat nari, nggak boleh berhenti sama mama, karena aku yang minta les2 itu
Rasanya dulu bete banget, orang lain bisa keluar masuk les seenaknya, aku gak bisa. Setelah aku gede, aku appreciate banget sama apa yang ditanamkan oleh mama: aku harus konsekuen sama pilihanku
about 6 years ago
Opah dan Mbah Puteri, dulu, selalu ngingatkan bapak ibu begini. “Awas! Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” celetuk Opah. Mbah Puteri melirik, kecut. Nah, anak-anak sekarang kelewat berani ngumpat papa mamanya yang kebablasan primitif. “Ich..! Guru kencing berdiri, murid ngubah lift jadi kamar mandi,” gerutu Harry Poter, nendang daun pintu sekolahnya, SD perkampungan kumuh kawasan Menteng, Jakpus.
about 6 years ago
Gag bisa sekarang kan bukan berarti gag bisa seterusnya. Kalo emang tertarik, bisa belajat kapan aja, toh skrg dah banyak pelatih renang.
Tulang g aja baru belajar berenang pas udah kerja (hmmm… kayaknya dah umur 30-an deh ^_^) Dan g sendiri baru belajar naek motor kira2 stahun yang lalu…hehehe… jadi gag masyhalah kan?! ^_*
about 6 years ago
Lus, gue naek sepeda sih jago…then I could even do it with no hands hehehe belagu. Tapi gue ga bisa berenang, nyelem bisa hanya ga bisa ngapung padahal persediaan lemak udah banyak, udah susah utk belajar kalo dah tua. Yaahh terima sajalah kenyataan ini hihihi.
about 5 years ago
i bet your dad must be the famous Mr. Tamba, rite?
he’s the only Math Celebrity in ’small town’ Sidikalang (i guess)!
about 5 years ago
hahaaha, saya juga ga bisa naek sepede, padahal pengen bgt bisa … udah setua ini
about 5 years ago
Lae,bukan mau nyombong nih, tapi kalau naik sepeda yah bisa lah, waktu kecil kenyang malah mainnya. Pernah gara2 iseng benerin rantai sepeda sempat tuh jari2 tangan kanan masuk ke gerigi sepeda..kontan waktu itu saya teriak2. Kalau berenang dulu sempat ikut klub renang di Bojana Tirta Rawamangun dan sempat ikut kejuaraan kelompok umur, walau nggak pernah juara (paling pol nomor 5). Dari kecil saya diberi kebebasan oleh orang tua saya (mungkin karena mereka berdua bekerja jadi tidak punya waktu memberikan perhatian secara penuh) untuk melakukan banyak hal. Olah raga dan belajar musik (waktu SMA) getol saya lakukan. Kalau prestasi akademis waktu SD sampai SMP sih lumayan, kadang juara kelas kadang nggak. Waktu SMA pas kelas 2, nilai ancur gara2 kebanyakan main gitar. Kelas 3 terus sadar dan belajar serius. Setelah kawin malah belajar jadi tambah serius (mungkin tanggungan tambah banyak jadi sadar yah?). Tapi hobby musik dan olah raga jalan terus, buat jaga keseimbangan body , mind and soul..
about 3 years ago
YAA…. AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN ORANG YANG SENASIB AMA SAYA… BANGGANYA SAYYAA…
iya, sya juga gak bisa naik seped, naik moto dan gak bisa berenang….
about 2 years ago
uwah, saya juga ngga bisa naik sepeda, dan teman2 SMA saya tetap mengajak saya bersepeda walaupun tau saya tidak bisa, huhuh..
nice post! sekalian blogwalking~