Jejak Langkah Seorang Pelamun
Archive for February, 2006
Tak Bisa Naik Sepeda ???
Feb 22nd
Sore tadi, ketika sedang minum kopi bersama Andy dan Novi, teman-teman kantor saya, tak sengaja pembicaraan mengarah ke naik sepeda. Bergantian mereka menceritakan pengalaman masa kecil bersama sepeda, terutama ketika jatuh melulu ketika belajar naik sepeda pertama kali
. Saya hanya diam saja, menyimak pembicaraan mereka, meskipun ada sesuatu dalam hati saya yang meletup-letup ingin dibicarakan. Tak tahan lagi, akhirnya saya nyeletuk :
“Gw gak bisa naik sepeda”
“Sumpeh loe??” *Ini gaya khas-nya Novi bicara.
“Yup.”
“Masa sih? Parah banget”
“Ya gw ga pernah belajar naik sepeda, gimana gw mo bisa???”
Ya, saya tak bisa naik sepeda
. FYI, I don’t ride bike (and in that case, motorbike), I don’t ride, and I don’t swim. Heran? Rasanya respon seperti yang diberikan Novi adalah sesuatu yang mungkin saya akan peroleh dari anda semua
.
Izinkan Aku Menyayangimu
Feb 20th
Iwan Fals.
Abang yang satu ini memang tak ada matinya. Pertama kali dengar lagu ini waktu pulang kampung Desember kemaren, eh sekarang sudah jadi soundtrack salah satu sinetron di televisi swasta Indonesia.
Selamat menikmati deh. Love this song a lot !!!
Iwan Fals – Izinkan Aku Menyayangimu
andai kau izinkan, walau sekejap memandang
kubuktikan kepadamu, aku memiliki rasa
cinta yang kupendam, tak sempat aku nyatakan
karena kau t’lah memilih, menutup pintu hatimu
Izinkan aku membuktikan inilah kesungguhan rasa
Izinkan aku menyayangimu
Sayangku, ow wo wohhh
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, ow wo wohhh
Dengarkanlah isi hatiku
Bila cinta tak menyatukan kita, bila kita tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu
Aku sayang padamu
Gonta Ganti Themes
Feb 17th
Beginilah kalau sedang males2an, kerjaan cuma gonta ganti theme di blog melulu
. Setelah browsing sana-sini, akhirnya Impact dari Abelgraphics yang jadi pilihan.
Mudah-mudahan bisa betah dengan yang ini
If better is possible, then good is not enough
Feb 16th
Apakah judul ini sebuah pernyataan yang klise?
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terbentur pada sebuah pertanyaan, seberapa jauh sessungguhnya “menjadi lebih baik” itu? Terbentur pada ukuran, pada standar. Jujur saja, sudah dua bulan lewat sejak terakhir kali saya menulis hal tersebut, saya belum juga menemukan “standar” yang tepat. What’s with the title, then?
Kembali ke masa-masa kuliah dulu, saya sempat terlibat dalam suatu kelompok studi bersama beberapa teman di kampus. Dalam aroma idealisme yang kental, tipikal kampus (mudah-mudahan saya tidak sedang sinis di sini), kami belajar dan berdiskusi bersama-sama dalam berbagai hal, terutama dalam hal pengembangan diri. Dalam pelatihan dasar, satu kalimat yang selalu menjadi kata kunci adalah Push Your Limit.
Sederhana memang, tapi saya kira pernyataan itu memberi energi yang besar. Konsepsi Push Your Limit menempatkan batas sebagai sesuatu yang dinamis. Ekspresi ini mengacu pada kondisi di mana hanya satu hal yang konstan, perkembangan itu sendiri. Push Your Limit menilai batas adalah sesuatu yang tidak stagnan. Ukurannya hanya satu hal, menjadi lebih baik. Push Your Limit memberi kemungkinan-kemungkinan pengembangan yang tidak terbatas. Kita tidak tahu, sebagai manusia, seberapa jauh sesungguhnya potensi yang kita miliki. More >
Pojok Baru : Galeri Foto
Feb 14th
Mengingat kapasitas korelasi yang terbatas, dan atas saran mita, saya akhirnya membuka account baru di multiply.com
Silakan lihat-lihat di sini
Semuanya masih default setup, belum dikustomisasi. Belum sempat
. Ini aja curi-curi posting bentar.
Recent Comments