The Fifth Mountain

Judul Asli : O Monte Cinco
Pengarang : Paulo Coelho

Judul Terjemahan : Gunung Kelima
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2005

“Tak mungkin Tuhan membiarkan kita dibantai tanpa belas kasihan,” Elia bersikeras.
“Tuhan Maha Kuasa. Kalau Dia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa-apa yang baik, Dia tidak bisa disebut maha kuasa; itu berarti Dia hanya menguasai satu bagian alam semesta, dan ada orang lain yang lebih berkuasa daripada-Nya, yang mengawasi dan menilai tindakan-tindakan-Nya. Kalau demikian halnya, aku memilih memuja orang yang lebih berkuasa itu.” (hal. 17)

Berlatar belakang kisah kehidupan Nabi Elia pada masa pemerintahan Raja Ahab, yang menikah dengan Ratu Izebel, buku ini menceritakan pergulatan iman Elia dalam panggilannya kepada Tuhan. Elia sejak kecil telah dapat mendengarkan suara Tuhan. Sesudah besar dan bekerja, suara-suara itu mulai hilang. Elia sendiri tumbuh menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan, namun tidak yakin bahwa dia adalah pilihan Tuhan. Kenyataan bahwa suara-suara itu hilang di kemudian hari membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman.

Pada saat Ahab, Raja Israel, menikah dengan Izebel, Izebel membawa kepercayaannya kepada nabi-nabi Baal ke Israel. Dengan cintanya kepada Izebel, Ahab mengizinkan pembangunan kuil-kuil pemujaan kepada Baal, dan mengizinkan kepercayaan itu berkembang di Israel, yang dengan demikian mengingkari perjanjian Israel dengan Allah Yahwe di Gunung Sinai. Pada saat penyembahan terhadap Baal itu semakin menjadi-jadi, Elia kembali mendengarkan suara Tuhan, yang menyuruhnya menyampaikan pesan Tuhan kepada Ahab. Pesan itu kemudian berkembang ke arah diburunya nabi-nabi dan pendeta-pendeta Israel, termasuk Elia, yang kemudian dipaksa menyembah Baal atau dibunuh. Elia, yang memilih tetap percaya kepada Tuhan, melarikan diri menjadi orang buangan di kota Akbar, menumpang di rumah seorang janda.

Dalam dunia yang semakin kacau oleh peperangan, Elia musti menentukan pilihan antara cinta yang tumbuh di hatinya dan kewajiban sebagai utusan Allah yang mesti dituntaskannya. Pencobaan-pencobaan yang dialaminya membuat kemurahan hati dan Kasih Tuhan, dan mendorongnya untuk mengambil satu keputusan: menantang Tuhan sampai Dia memberi jawaban.

Topik utama bagi saya yang sangat menarik dari buku ini adalah satu tindakan Elia, menentang Tuhan. Paulo mengungkapkannya dengan sangat gamblang, “…bunuhlah aku sekarang, sebab kalau Engkau membiarkan aku tiba di gerbang-gerbang kota itu, aku akan membangun kembali kota yang hendak Kau sapu bersih dari muka bumi. Dan aku akan melawan penghakiman-Mu.” (hal 246). Situasi ini adalah puncak perlawanan pribadi Elia atas pencobaan-pencobaan yang dialaminya, meskipun Ia telah mengabdikan diri kepada Tuhan sejak masa muda-nya. Menilik pengalaman Yakub yang menentang Tuhan dengan bergulat dengan utusan-Nya, atau pengalaman Musa yang tidak diizinkan Tuhan untuk menginjak Kanaan meskipun Musa telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke tanah terjanji, Elia memutuskan mengambil jalan yang sama dengan Yakub, menentang Tuhan sampai Tuhan memberikan jawabannya.

Terminologi menentang Tuhan sendiri, di sini, sebenarnya bukanlah menentang sebenar-benar menentang. Dalam buku ini, dikisahkan bahwa ketika Elia ingin segera kembali ke Israel melakukan tugas perutusannya, malaikat Tuhan sendiri berkata, Elia bisa kembali ke Israel, kalau ia sudah belajar “membangun sesuatu kembali”. Dalam sudut pandang tertentu, apa yang dilakukan Elia, yang disebutnya “menentang Tuhan”, dengan cara membangun kembali kota yang “dihancurkan oleh Tuhan dengan tangan-Nya sendiri” sesungguhnya adalah pemenuhan persyaratan itu.

Tetapi sangat jelas bahwa persepsi Paulo tentang beriman, memahami kehendak Tuhan, adalah persepsi yang aktif. Dengan bertumpu pada keyakinan bahwa Tuhan memberikan pilihan kepada manusia, pilihan bebas yang merupakan anugerah tertinggi yang diberikan kepada mahluk ciptaan Tuhan, Paulo hendak menyampaikan bahwa kehendak bebas itu sendirilah inti dari keimanan itu sendiri. Tentang hal ini Paulo mengungkapkan “Ada kalanya Tuhan menuntut kepatuhan. Tetapi ada kalanya juga Dia ingin menguji tekad kita, menantang kita untuk memahami kasih-Nya.” (hal 294). Sebab dengan mendengarkan suara hati sendiri, memilih berdasarkan kehendak yang diberikan Tuhan, dengan tetap bertekun dan percaya akan keberadaan-Nya, sesungguhnya di situlah kita menguji keimanan kita.

Seperti halnya buku-buku Paulo pada umumnya, buku ini kaya dengan perenungan-perenungan religius yang mendalam. Tanpa bermaksud menggurui, bukan hal yang aneh rasanya ketika pada saat-saat tertentu kita mempertanyakan justifikasi Tuhan. Kita mempertanyakan mengapa Tuhan membiarkan sesuatu terjadi kepada kita, bahkan ketika kita merasa bahwa kita sudah melakukan semua perintahnya. Kita mempertanyakan bencana, malapetaka, dan semua kejadian2 lain yang seringkali terasa sangat kontradiktif dengan apa yang kita yakini tentang Tuhan yang Mahabaik.

Tetapi sebagaimana Soren Kierkegaard pernah berkata, kita tidak mungkin memahami logika Tuhan dengan logika kemanusiaan kita. Sebab jika kita bisa memahami Tuhan dengan keterbatasan kita yang sempit, lantas untuk apakah kita percaya kepada-Nya? Dan sebagaimana setiap khotbah, setiap inspirasi dari bencana, “Tuhan tidak pernah mencobai manusia melampaui batas kemampuannya.”

Bagi saya, buku ini mengajarkan bagaimana kita mesti menyikapi semua peristiwa yang kita alami, sesekali “menentang Tuhan” dalam perspektif religius yang positif. Sehingga kelak, kita pun, seperti Elia akhirnya berdamai dengan Tuhan, seperti diungkapkan Paulo melalui Elia dalam bentuk logika manusia yang sederhana, “Kalau kita saling membandingkan daftar dosaku dengan daftar dosa-Mu, ya Tuhan, akan Kau lihat bahwa Kau berutang padaku. Tapi pada Hari Pendamaian ini, berikanlah kiranya pengampunan-Mu padaku, dan aku pun akan mengampuni-Mu, sehingga dapatlah kita kembali berjalan berdampingan.” (hal.286).