“Ai aha do na-nikarejo-an mi?”*
“Karejokku sian kantor.”**
“Ai ndang huantusi puang na ni surat mi”***
“Ai bahasa Inggris do i, Bapa”****
“Bah, jadi marbahasa Inggris do ho manurat karejomi?”*****
“Ai ido. Ba songoni no sadari-dari molo surat-menyurat di karejokku”******

Saya menjemput Bapak di bandara, 5 September yang lalu, sehubungan ada perjalanan dinas di Jakarta, seperti yang umum beliau lakukan. Tapi jangan kira Bapak saya seorang pejabat, yang umumnya sangat doyan dengan kata-kata perjalanan dinas :D . Bapak saya seorang guru sekolah dasar, khususnya Matematika. Dari sebuah kota kecil pula. Beliau ke Jakarta dalam rangka mendampingi siswa binaannya, yang ikut serta dalam Olimpiade Sains Nasional IV di Jakarta. Kangen dengan saya, seperti juga saya kangen dengan beliau, jadilah beliau menginap di tempat saya beberapa malam, he he he. Alasan sebenarnya sih terlalu panjang untuk dibicarakan di sini, tapi ya sudahlah, itu tidaklah terlalu penting.

Usia dan kapur tulis yang digelutinya setiap hari tampaknya telah membuatnya terlihat tua. Hanya sedikit rambut di uban, serta kulit gelap terbakar matahari, pun semangatnya tidak pernah luntur ketika berbicara tentang mengajar dan melatih. Saya pernah bercerita tentang daerah kelahiran saya, sebuah kota yang termasuk paling tertinggal di Sumatera Utara. Tapi kalau soal pendidikan, terutama untuk sekolah dasar, jangan ditanya. Dalam hal ini saya boleh berbangga dengan Bapak. Sejak tahun 1991, hampir setiap tahun beliau membawa siswa-nya bertanding dalam berbagai perlombaan bidang studi Matematika di tingkat Nasional. Semakin bangga lagi, karena pertama kali saya lah yang dibawanya ke Jakarta.

Kegigihan bapak saya, visinya yang jauh ke depan, serta kecintaannya pada pendidikanlah, yang telah membawa saya ke kondisi saat ini. Saya tahu betul, banyak orang yang jauh lebih susah ekonominya dibandingkan seorang guru SD, tapi buat bapak saya, saya tetap acungkan jempol. Kami enam bersaudara, dan semuanya dapat bersekolah dengan baik. Tiga dari kami bahkan mampu mengecap pendidikan di Pulau Jawa, suatu tempat yang rasanya tak terbayangkan dulunya. Dan semuanya beliau lakukan sendiri, sebab dari awal beliau telah meminta ibu saya tinggal di rumah, mengurus anak-anak. Bukan tanpa masalah tentu. Gaji guru yang sangat kecil (saat ini, sesudah 33 tahun mengajar, gaji bulanan beliau hanya 1.8 juta rupiah) membuat beliau harus kerja ekstra keras, pagi mengajar di sekolah, dan sore sampai malam memberikan les tambahan matematika. Beruntung karena seringnya beliau sukses membawa siswanya dari kota kecil bertanding sampai ke tingkat nasional, memperoleh murid les tambahan bukanlah pekerjaan yang susah. Tapi tetap saja, sisanya adalah perjuangan yang tak berhenti, bahkan sampai sekarang.

58 tahun beliau sekarang, dan masih tidak banyak berubah, kecuali gurat-gurat usia yang terus menanam keriput di wajahnya. Dan beliau masihlah seorang dari kampung. Yang cukup senang melihat anaknya sudah bekerja, walaupun beliau tak pernah mengerti, sebenarnya apa pekerjaan anaknya, seperti yang terungkap di perbincangan kami di atas. Beliau tidak mengerti, dan tidak ingin mengerti, apa-apa tentang teknologi. Pernah suatu kali saya putuskan membelikan beliau sebuah telepon genggam, tak sampai sebulan telepon genggam itu telah berpindah ke tangan adik saya. Alasannya cuma satu, beliau tak berminat belajar menggunakannya. Sudah terlalu tua katanya.

Satu hal yang diketahuinya, dan dilakukannya, hanyalah matematika. Untuk soal yang satu ini, segala macam cara pun dilakukannya. Mulai dari meminta dikirimkan buku-buku terbaru, mengembangkan metode mengajar sendiri, belajar dari para sarjana matematika di pulau Jawa, semuanya beliau lakukan. Matematika adalah nafasnya, kecintaannya, dan hidupnya. Bicaralah kepadanya soal metode mengajar matematika di sekolah dasar, maka anda akan bertemu dengan ahlinya. Tidak ada teknologi canggih, riset, atau penelitian ilmiah apapun. Semuanya adalah buah pengalaman sendiri, hasil mencoba, berhasil maupun gagal.

Beliau, bapak saya.

* “Apa yang kau kerjakan itu”
** “Pekerjaanku dari kantor”
*** “Sedikitpun aku tidak mengerti apa yang kau tulis di situ”
**** “Itu Bahasa Inggris, Pak”
***** “Bah, jadi kau berbahasa Inggris dalam menulis hasil-hasil kerjamu?”
****** “Ya, iya. Memang begitu sehari-hari kalau surat menyurat di kantorku”.