Jejak Langkah Seorang Pelamun
Archive for September, 2005
Logika penghematan masyarakat kita?
Sep 30th
Dalam dua kali peristiwa kenaikan BBM tahun ini, ada satu fenomena yang selalu terjadi. Antrian BBM yang sangat panjang terjadi satu atau dua hari sebelum hari kenaikan BBM yang direncanakan pemerintah. Kemacetan pun terjadi di mana-mana. Yang terakhir tentu adalah rencana pemerintah untuk menaikkan BBM besok, 1 Oktober 2005. Kebetulan saya sedang dalam perjalanan dinas ke Bali, dan kembali ke Jakarta kemarin sore. Keluar dari bandara kemacetan panjang terjadi begitu keluar dari jalan di depan terminal. Sedemikian macet, sehingga saya akhirnya ikut teman dulu sampai ke Tangerang, baru kemudian naik taksi dari sana untuk kembali ke kos.
Sejak peristiwa kenaikan pertama sekitar awal-awal tahun ini, saya sering bertanya-tanya, sebegitu pentingkah sebenarnya mendapatkan sejumlah liter bensin sekedar untuk menunggu sampai satu dua hari ke depan? Taruhlah BBM naik 100%, yang berarti menjadi 5800 rupiah per liter, naik 2400 per liternya. Dengan kapasitas 80-100 liter, seseorang bisa mengisi penuh tangki bensinnya, seseorang bisa menghemat 192-240 ribu rupiah, yang mungkin hanya akan dipakai selama 2 minggu sebelum harus mengisi kembali, yang berarti menghemat 16-20 ribu rupiah sehari. Yang jadi pertanyaan saya, untuk nominal sejumlah itu, cukup layakkah untuk kemudian mengantri di SPBU selama berjam-jam?
Bukannya saya menganggap bahwa sejumlah uang itu tidaklah berharga. Tapi tengoklah model konsumerisme masyarakat kita. Secara pribadi saya merasa, kok ya “not worthed” gitu loh, harus membuang waktu berjam-jam, demi 16 ribu rupiah sehari? Atau saya yang terlalu angkuh ya? Bukankah akan lebih signifikan kalau penghematan yang dilakukan adalah penghematan dalam jangka panjang? Katakanlah penghematan dengan mengurangi jalan-jalan, atau penghematan ke salon, atau penghematan listrik, atau penghematan air, atau penghematan lainnya? Atau memang begitu logika penghematan masyarakat kita?
Ah, tapi ya tidak tahu juga. Mungkin karena saya tidak menyetir mobil sendiri, jadi saya tidak mengerti. Namanya saja omong-omong, bukan begitu saudara-saudara?
Revolusi Internet
Sep 27th
Saya teringat sebuah diskusi dengan seorang teman di sebuah forum, tentang revolusi. Beliau teman saya ini, sayang sekali tidak lagi saya ingat namanya, mengungkapkan kekhawatirannya akan tidak adanya lagi “revolusi yang signifikan” dalam kemanusiaan (humanity). Mengacu pada penemuan-penemuan besar, seperti penemuan listrik, penemuan telepon, penemuan nuklir, beliau sempat melemparkan opini, bahwa dalam 20 tahun terakhir, hampir tidak ada lagi revolusi penemuan yang signifikan yang berkontribusi besar terhadap perkembangan umat manusia. Waktu itu pun, saya sudah menganggap beliau salah, karena cara kami berdiskusi saat itu, forum melalui media internet, bagi saya sudah merupakan suatu revolusi.
Jujur saja, 6 tahun yang lalu, saya sama sekali tidak mengenal komputer. Masih ingat betul, dalam praktikum komputer pertama kali di kampus, waktu saya lirik kanan lirik kiri, melihat tombol apa yang harus saya tekan supaya kotak segi empat yang ada di depan saya waktu itu menyala, dan mengeluarkan tampilan di kaca besar lainnya. Belum lagi tampilan di layar yang saya sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, boro-boro melakukan instruksi-instruksi yang dituliskan di modul praktikum. Alih-alih mencoba belajar komputer, yang saya lakukan waktu itu sederhana saja. Belajar mengkopi dokumen, belajar memodifikasi tampilan, meminjam program yang sudah jadi buatan teman saya, mengganti nama variable dalam program, menambahkan mode “blink”, tulisan miring, tulisan tebal, lantas mengubah program tersebut menjadi milik saya
. Sederhana saja.
Pun, empat tahun sesudah itu, saya sudah berkomunikasi di komputer dengan orang-orang yang fisiknya entah ada di mana. Seringkali bahkan, orang-orang yang saya tidak tahu apakah keberadaannya memang benar atau sekedar fiktif. Saya toh tidak bisa memastikan bahwa orang yang saya ajak berdiskusi dengan nama Anu di forum A, sesungguhnya adalah orang yang sama dengan nama Polan di forum B. Saya mengetikkan opini saya tentang suatu hal, dan sesaat sesudah itu pula, seorang yang lain di negara yang letaknya di peta saja saya tidak tahu, memberikan opininya dan dapat segera saya baca. Dengan biaya yang murah pula. Lantas, apakah itu bukan revolusi namanya?
Internet, dipercaya atau tidak, telah membuat banyak hal menjadi sangat mungkin. 4 tahun lalu saya tidak bisa berpikir bahwa saya bisa membeli buku tanpa harus meninggalkan meja tempat saya duduk. Tapi sekarang, saya bisa membaca resensi buku yang saya inginkan, membandingkannya dengan buku-buku lain berdasarkan komentar mereka-mereka yang sudah membaca, memesan buku tersebut lewat internet, dan besok harinya buku yang saya pesan sudah tiba di meja saya. Saya bahkan bisa melakukan itu sambil minum kopi. Lantas, apakah itu bukan revolusi namanya?
Kalau bukan karena reuni, atau tidak sengaja bertemu, atau saya benar-benar niat mencari, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan berhubungan lagi dengan teman SMP saya. Tapi dengan Friendster (sampai saat ini saya masih menganggap bahwa friendster adalah salah satu dari sekian banyak ide revolusioner yang muncul di belantara dunia Internet yang masih terus berkembang), saya bisa tahu bahwa teman sebangku saya waktu smp dulu, ternyata adalah teman SMA dari teman satu kelas saya di kuliah, yang ternyata menikah dengan teman SMA saya yang lain, dan bekerja di kantor pacar saya (terlalu banyak kebetulan kah di skenario ini? Kok rasanya seperti iklan sebuah produk kartu kredit ya
). Terlepas dari benar tidaknya skenario itu, tetap saja Internet membuat hal itu mungkin.
Dan kalau bukan karena internet pula, bagaimana anda bisa sampai di blog saya ini? Dari 10 orang yang mengunjungi blog saya har ini, atau 20 orang yang mengunjungi blog anda hari ini, sangatlah mungkin bahwa mereka tersasar di blog anda karena satu dan lain alasan yang berbeda. Dan begitu ruwetnya kemungkinan-kemungkinan itu, sehingga setiap kali saya tiba di satu blog yang saya sukai, saya akhirnya memutuskan untuk mengatakan “…. saya tiba di blog anda ini dengan alasan yang saya sendiri pun tidak bisa lagi mengingatnya…”
.
Sudah lihat iklan teknologi Samsung yang terbaru? “With samsung digital technology, it’s not that hard to imagine”. Imajinasi, tampaknya belum akan menemukan batasnya, dalam perkembangan dunia multimedia yang semakin hari semakin cepat untuk diikuti ini.
Rasanya kok saya merasa bahwa tulisan saya ini terlalu ketinggalan zaman ya
. Ah, tapi sudahlah, hitung-hitung sekedar nostalgia. Dan lagi, ada beberapa hal yang berkaitan dengan internet yang ingin saya tuliskan dalam blog ini di waktu-waktu dekat, jadi anggap saja ini sebuah mukadimah
.
Localization – Seberapa perlu kah?
Sep 26th
Localization mengacu pada proses penerjemahan suatu software tertentu ke dalam bahasa lokal.
Dalam sebuah diskusi dengan klien di salah satu perusahaan nasional, saya sempat tercekat ketika mereka menanyakan, apakah hasil pelaporan yang nanti akan diajukan ada versi Indonesia (lokal)-nya. Pertanyaan itu sempat membuat saya shock. Apalagi pertanyaan berikutnya “Kalau pelaporannya dalam bahasa Inggris, jangankan mengerti laporannya. Membaca laporannya pun, belum tentu staf saya bisa”.
Terlepas dari benar tidaknya klaim beliau, menjadi pertanyaan kemudian adalah seberapa besarkah tingkat urgensi dari localization?
Dalam bidang yang saya tekuni sekarang, bidang keamanan teknologi informasi, ketersediaan informasi dalam bahasa Indonesia boleh dibilang masih sangat terbatas. Sebagian besar standar, tools, dan informasi lainnya masih dalam bahasa Inggris. Belum lagi persoalan standar prosedur. ISO17799 (yang katanya akan menjadi ISO27000) masih belum ada versi Indonesianya. Sejauh yang saya dengar, Kominfo sedang bekerja menyusun draft petunjuk pelaksanaan keamanan TI untuk Indonesia dalam bahasa Indonesia, dengan mengacu pada standar Internasional yang ada.
Barangkali keberadaan standar akan membantu dalam pelaksanaan di tataran kebijakan (policy), akan tetapi tidak akan cukup membantu di tataran praktis. Sebagian besar tools assessment masih mengacu pada basis data informasi yang disusun dalam bahasa Inggris. Beberapa projek seperti Wikipedia mungkin dapat membantu mempercepat perkembangan teknologi informasi dengan menyediakan informasi berbahasa Indonesia, akan tetapi sejauh ini masih dalam tingkat yang terbatas. Beberapa waktu lalu seorang teman pernah memberikan informasi tentang website IlmuKomputer, yang mencoba membangun media informasi ilmukomputer dalam bahasa Indonesia. Barangkali khusus untuk teknologi keamanan sistem informasi, kita perlu membangun portal khusus? Rasanya kok seperti reinventing the wheel ya?
Ah, saya sendiri tidak punya solusi apapun dalam hal ini. Hanya sekedar omong-omong saja
.
Spam Karma Installed
Sep 20th
I’ve been very annoyed by spams that filled up my comment pages the last few days. It is up to today that I can finally managed to spend a few minutes browsing on the web, and decided to setup SpamKarma to fight those stupid spams. Hopefully this will reduce the spam that has become a headache in the last few days.
So how’s life ppl? Haven’t been able to find time and idea to write lately
.
Bapak Saya
Sep 9th
“Ai aha do na-nikarejo-an mi?”*
“Karejokku sian kantor.”**
“Ai ndang huantusi puang na ni surat mi”***
“Ai bahasa Inggris do i, Bapa”****
“Bah, jadi marbahasa Inggris do ho manurat karejomi?”*****
“Ai ido. Ba songoni no sadari-dari molo surat-menyurat di karejokku”******
Saya menjemput Bapak di bandara, 5 September yang lalu, sehubungan ada perjalanan dinas di Jakarta, seperti yang umum beliau lakukan. Tapi jangan kira Bapak saya seorang pejabat, yang umumnya sangat doyan dengan kata-kata perjalanan dinas
. Bapak saya seorang guru sekolah dasar, khususnya Matematika. Dari sebuah kota kecil pula. Beliau ke Jakarta dalam rangka mendampingi siswa binaannya, yang ikut serta dalam Olimpiade Sains Nasional IV di Jakarta. Kangen dengan saya, seperti juga saya kangen dengan beliau, jadilah beliau menginap di tempat saya beberapa malam, he he he. Alasan sebenarnya sih terlalu panjang untuk dibicarakan di sini, tapi ya sudahlah, itu tidaklah terlalu penting.
Usia dan kapur tulis yang digelutinya setiap hari tampaknya telah membuatnya terlihat tua. Hanya sedikit rambut di uban, serta kulit gelap terbakar matahari, pun semangatnya tidak pernah luntur ketika berbicara tentang mengajar dan melatih. Saya pernah bercerita tentang daerah kelahiran saya, sebuah kota yang termasuk paling tertinggal di Sumatera Utara. Tapi kalau soal pendidikan, terutama untuk sekolah dasar, jangan ditanya. Dalam hal ini saya boleh berbangga dengan Bapak. Sejak tahun 1991, hampir setiap tahun beliau membawa siswa-nya bertanding dalam berbagai perlombaan bidang studi Matematika di tingkat Nasional. Semakin bangga lagi, karena pertama kali saya lah yang dibawanya ke Jakarta.
Kegigihan bapak saya, visinya yang jauh ke depan, serta kecintaannya pada pendidikanlah, yang telah membawa saya ke kondisi saat ini. Saya tahu betul, banyak orang yang jauh lebih susah ekonominya dibandingkan seorang guru SD, tapi buat bapak saya, saya tetap acungkan jempol. Kami enam bersaudara, dan semuanya dapat bersekolah dengan baik. Tiga dari kami bahkan mampu mengecap pendidikan di Pulau Jawa, suatu tempat yang rasanya tak terbayangkan dulunya. Dan semuanya beliau lakukan sendiri, sebab dari awal beliau telah meminta ibu saya tinggal di rumah, mengurus anak-anak. Bukan tanpa masalah tentu. Gaji guru yang sangat kecil (saat ini, sesudah 33 tahun mengajar, gaji bulanan beliau hanya 1.8 juta rupiah) membuat beliau harus kerja ekstra keras, pagi mengajar di sekolah, dan sore sampai malam memberikan les tambahan matematika. Beruntung karena seringnya beliau sukses membawa siswanya dari kota kecil bertanding sampai ke tingkat nasional, memperoleh murid les tambahan bukanlah pekerjaan yang susah. Tapi tetap saja, sisanya adalah perjuangan yang tak berhenti, bahkan sampai sekarang.
58 tahun beliau sekarang, dan masih tidak banyak berubah, kecuali gurat-gurat usia yang terus menanam keriput di wajahnya. Dan beliau masihlah seorang dari kampung. Yang cukup senang melihat anaknya sudah bekerja, walaupun beliau tak pernah mengerti, sebenarnya apa pekerjaan anaknya, seperti yang terungkap di perbincangan kami di atas. Beliau tidak mengerti, dan tidak ingin mengerti, apa-apa tentang teknologi. Pernah suatu kali saya putuskan membelikan beliau sebuah telepon genggam, tak sampai sebulan telepon genggam itu telah berpindah ke tangan adik saya. Alasannya cuma satu, beliau tak berminat belajar menggunakannya. Sudah terlalu tua katanya.
Satu hal yang diketahuinya, dan dilakukannya, hanyalah matematika. Untuk soal yang satu ini, segala macam cara pun dilakukannya. Mulai dari meminta dikirimkan buku-buku terbaru, mengembangkan metode mengajar sendiri, belajar dari para sarjana matematika di pulau Jawa, semuanya beliau lakukan. Matematika adalah nafasnya, kecintaannya, dan hidupnya. Bicaralah kepadanya soal metode mengajar matematika di sekolah dasar, maka anda akan bertemu dengan ahlinya. Tidak ada teknologi canggih, riset, atau penelitian ilmiah apapun. Semuanya adalah buah pengalaman sendiri, hasil mencoba, berhasil maupun gagal.
Beliau, bapak saya.
* “Apa yang kau kerjakan itu”
** “Pekerjaanku dari kantor”
*** “Sedikitpun aku tidak mengerti apa yang kau tulis di situ”
**** “Itu Bahasa Inggris, Pak”
***** “Bah, jadi kau berbahasa Inggris dalam menulis hasil-hasil kerjamu?”
****** “Ya, iya. Memang begitu sehari-hari kalau surat menyurat di kantorku”.
Recent Comments