Jejak Langkah Seorang Pelamun
Menjadi apatis
Sabtu kemarin, ketika sedang menikmati serial Desperate Housewives, handphone saya mendadak berdering nyaring. Padahal itu sudah jam 10 malam (jarang sekali hal seperti itu terjadi pada saya
). Saya lihat display, muncul nomor yang tidak saya kenal. Hmm, mikir sejenak, lantas saya angkat :
Lus lagi di mana?
Ini siapa ya?
Timot
Eh Mot, apa kabar lu?
Baik. Gw sebenarnya mo nebeng nginep neh. Bisa gak?
Lho ???
Tadi gw abis ketemu mbak Ani ama Agnes. Trus udah kemaleman kalau mau pulang ke Cikarang. Jadi lagi nyari tempat nginep nih. Ada teras atau apa ngga yang kosong?
Ya wis, dateng aja.
Berhubung kamar saya sedang berantakan (seperti biasa
), akhirnya saya gunakan beberapa menit untuk membereskan kamar, mengambil matras kecil dari atas lemari, dan menaruhnya di lantai. Beruntung saya akhirnya punya matras cadangan, sejak adik saya datang ke sini beberapa waktu yang lalu. Dalam kondisi mendadak seperti ini, terbukti barang itu bisa jadi perlengkapan yang sangat membantu.
Timot adalah seorang teman lama dari kuliah. Sudah cukup lama saya tidak bertemu dengan orang ini, selain sedikit chit-chat di Yahoo, serta komunikasi lewat email. Dia bekerja di daerah Cikarang, jadi sangat bisa dimaklumi, dengan kondisi Jakarta seperti ini, kalau kita jarang ketemu. Selain itu, kita memang tidak terlalu dekat sih. Jadi ya ngga heran, he he he.
Dulu dia maen di pergerakan, terutama menjadi aktivis buruh semasa kuliah di Bandung. Aktivitas yang sempat membuat kuliahnya terganggu, bahkan terancam drop-out. Bersyukur, dengan dukungan dari beberapa teman akhirnya dia bisa lulus (saya bukannya mengatakan bahwa beberapa kawan yang akhirnya tidak menyelesaikan kuliahnya lantas tidak beruntung, sebab ternyata pada akhirnya lulus kuliah bukanlah suatu ukuran. Walaupun struktur sosial, terutama struktur dunia kerja, masih dengan jelas membedakan mereka yang “lulus kuliah” dengan mereka yang “tidak lulus kuliah”). Zaman itu, pun saya masih terlibat dalam kaderisasi kaum muda, bersama beberapa teman. Dulu ada canda-candaan, bahwa bagi orang lapangan seperti Timot, yang langsung terjun ke akar rumput, kelompok kaderisasi adalah kelompok banci
. Maksudnya, bisanya hanya mikir, bikin pelatihan, tidak langsung turun ke bawah, mengajarkan sesuatu dalam tataran pemikiran, bukan dalam tataran praksis. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa kita tidak terlalu dekat, walaupun kita mempercayai hal yang sama (waktu itu). Ya karena tempat maennya beda. Tapi, bagi mereka-mereka yang pernah terjun di aktivitas ini, adalah semacam ikatan tak tertulis, bahwa sesama kita yang pernah di pergerakan, dalam bidang apapun, adalah saudara, yang tidak perlu sungkan-sungkan satu sama lain. Ada semacam kedekatan, yang tak terlihat di permukaan, tapi bisa dirasakan antara satu dengan yang lain.
Mengingat lagi ke masa-masa itu, saya akui bahwa saya memang cenderung bermain aman. Dibandingkan menjadi aktivis, yang notabene berarti meningkatkan kemungkinan untuk masuk ke dalam daftar pencarian orang, atau terancam kena gebuk waktu demonstrasi, saya lebih memilih menjadi “think-tank”. Istilah yang sebenarnya berlebihan, he he he. Tapi buat saya itu aktivitas paling aman waktu itu. Daripada orang tua saya kena serangan jantung, melihat anaknya mendadak muncul di televisi, rasanya tidak lucu. Saya bisa digebukin bapak saya habis-habisan, resiko yang saya tidak berani ambil. Dan ada hasil real-nya, walaupun tidak seekstrim kawan-kawan di lapangan. Setidaknya, saya masih berasa, bahwa saya dan beberapa teman menganggap, bahwa kita cukup berkontribusi membantu kawan-kawan yang baru kuliah untuk melihat dunia secara lebih luas, tidak sekedar kampus dan embel-embelnya. He he he, idealisme masa kuliah yang sampai sekarang masih berusaha menemukan pembenarannya.
Kembali ke Timot, sekitar jam 11 malem dia tiba di tempat kos saya. Lalu kita terlibat pembicaraan sana sini. Lebih ke nostalgia kawan-kawan lama sih. Bertanya si ini sekarang main di mana? atau si itu sekarang aktif di mana? Atau si anu sekarang kabarnya apa? Mencoba mencari jejak-jejak yang pelan-pelan hilang, kawan-kawan yang dulu sempat menjadi teman berdiskusi dan bertukar pikiran. Dan saya terkejut menyadari, betapa ternyata saya sangat ketinggalan berita. Mendengar bahwa si ini sekarang sudah di situ, atau si itu ternyata sudah putus dengan si anu, atau ternyata si Polan ternyata sudah menikah dengan Jane Doe, saya tahu, ternyata angin kabar tak lagi singgah di tempat saya
. Atau mungkin saya yang menjauh?
Beranjak ke dunia kerja, saya akui saya cenderung menjadi apatis. Saya tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di masyarakat. Saya tak lagi perduli dengan masalah-masalah sosial, hal-hal yang dulu sering menjadi bahan diskusi selama bermalam-malam. Beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan semua itu, dan berkonsentrasi penuh ke urusan mencari duit. Saya meninggalkan koran, saya meninggalkan berita televisi, melupakan buku-buku dan ajaran-ajaran yang dulu pernah saya dapatkan.
Dalam perbincangan dengan Timot, saya mengungkapkan itu. Betapa saya telah menjadi seorang apatis. Betapa ternyata kehidupan materialis, uang dan kawan-kawannya, jauh lebih menyenangkan, lebih membius, dan lebih memberi hasil yang jelas. Timot sendiri masih suka bertemu dengan kawan-kawan lama, masih berhubungan dengan kontak-kontak lama, kadang-kadang membantu organisasi ini, atau ikut dalam diskusi itu. Entah dia jujur atau tidak, ketika mengatakan bahwa itu sekedar upaya untuk mengisi waktu, saya juga tidak terlalu yakin. Karena saya tahu betul, semasa kuliah, keyakinannya terhadap pergerakan sangatlah kuat. Tidak seperti saya yang mencla-mencle.
Terus terang, saya merindukan masa-masa itu. Masa-masa ketika otak sangat bergairah. Mendiskusikan persoalan-persoalan di masyarakat, menerbitkan jurnal-jurnal dan publikasi tentang kondisi sosial. Dulu saya sempat berpikir, mungkin seharusnya saya masuk jurusan sosial saja. Tetapi ya itu, namanya idealisme semasa kuliah. Barangkali yang tersisa dari didikan saya selama kuliah, hanyalah kesukaan saya membaca buku. Itupun, sekarang saya tetap bermain aman. Daripada mengunyah buku-buku psikologi sosial atau teori sosial, saya cenderung beralih ke sastra. Ke novel, ke drama, hal-hal yang lebih mudah untuk dicerna.
Ya, saya sudah menjadi apatis. Terus terang itu mengganggu saya di satu pihak, tapi saya tak ingin meninggalkan kenyamanan yang ada sekarang di lain pihak. Atau mungkin, ada kompensasi yang bisa dilakukan dengan kondisi sekarang? Entahlah… kita butuh perenungan lebih jauh untuk itu.
Sementara ini, saya menikmati dulu bertemu dengan teman-teman lama. Jumat depan kita akan jalan bareng. Sudah lama betul rasanya …
about 6 years ago
same here …
about 6 years ago
not that smart siy….good enuff to survivelah pokoknya
… menjadi apatis? uhm…hampir..
about 6 years ago
apapun itu, smua pasti ada baik buruknya, ada pengorbanan…
do the best aja yg bikin lo nyaman…
about 6 years ago
Kalo ‘gak mau apatis, jangan lulus cepet-cepet…. 7 tahun aja….
mau-maunya terjun bebas ke dalam alienasi dunia kerja….
Mending kalo dari kuliah udah apatis….
?
Kayak kenal nggak sih….
about 6 years ago
mungkin bukan apatis tapi idealismenya jadi beda bentuk gitu? apa kalo punya idealisme itu kudu yang jadi aktivis ato think thank gitu? menurutku sih enggak ya. hal-hal kecil sehari-hari juga bisa jadi ajang idealisme kan? negara terlalu besar kalo mau diubah semua dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya, bukan?
about 6 years ago
gimana kalo memulai sesuatu yg baru, bukan politik tp lebih ke hal sosial..
jadi donatur utk pendidikan misalnya, skrg byk bgt anak2 yg ga bisa sekolah loh… boro2 kuliah
about 6 years ago
mungkin jadi apatis setelah kerja, gak cuma krn nggak mau kehilangan kenyamanan. tapi juga krn jadi ‘budak’ pekerjaan, jadi rasanya gak punya waktu buat yang lain2. jangankan buat idealisme sosial kayak gitu, buat keluarga aja, kalo gak ’setengah memaksa’, banyak yg gak sempat.
atau mungkin krn udah merasakan nikmatnya punya uang?
about 6 years ago
mungkin ada benernya juga? aku juga ngerasain hal spt itu akhir-2 ini?
about 6 years ago
menjadi batu itu lebih baik jika dibandingkan menjadi abu.