Ia seorang perempuan cantik, menarik, dan indah. *

12.15, July 25th

Ia seorang perempuan cantik, menarik, dan indah. Bagaimana aku bertemu dengannya, mungkin adalah sebuah cerita klise. Cerita yang sama, yang juga mungkin akan kusebutkan, tentang pertemuan-pertemuanku dengan perempuan-perempuan lainnya. Cerita yang sama tentang angin kering Jakarta yang meniupkan sebuah bisikan akan seorang perempuan yang cantik, menarik, dan indah di arah jam 2. Lalu tentang mata yang mendadak berkhianat, berputar 60,90,120 derajat, sebelum akhirnya otak menemukan kesadaran. Demikianlah kaki kemudian berhenti, dan selanjutnya adalah pandangan terpaku, dan sebersit tanya menggumam di udara “Bagaimana mungkin perempuan semenarik, secantik, dan seindah itu bisa berjalan sendirian?”.

Lalu mungkin aku akan bercerita tentang bagaimana aku setengah berlari mengejar langkah-langkah kecilnya yang teratur, menjaga jarak sedemikian sehingga tidak terlalu mencolok, tapi juga tidak akan kehilangan jejak. Sesekali membuang muka jika mendadak tak sengaja mata kami bertemu ketika mungkin malaikat pelindungnya membisikkan cerita tentang seorang asing yang mengikutinya dari kejauhan.

Ia bekerja di gedung yang sama denganku. Lebih jauh lagi, ia naik lift yang sama denganku, hal baru yang kutemukan kemudian. Hal baru yang juga akan membersitkan tanya yang sama “Bagaimana mungkin perempuan semenarik, secantik, dan seindah itu bisa naik lift yang sama denganku, tanpa pernah berpapasan sekalipun?”. Tetapi seperti biasa, tanya tetaplah tinggal tanya, sementara pintu lift menelan tubuhnya. Kuputar langkah, kembali ke jalan yang sama, diam-diam bersiul perlahan, sambil berharap keberuntungan yang sama akan muncul kembali esok hari, di jam yang sama ini.

****

12.10 , July 26

Mengambil resiko untuk menunggui lift kelihatannya akan terdengar sangat memalukan, sehingga kuputuskan untuk berjudi dengan peruntungan. Berjalan pelan-pelan, kuputuskan mengawasi dunia sekitar, berharap perempuan cantik, menarik, dan indah yang sama kemarin akan muncul dengan cara yang sama pula. Tinggal lima meter dari food court tempatku biasa makan, sebelum akhirnya aku memutuskan bahwa kelihatannya Dewi Fortuna sedang tidur. Atau kalaupun tidak, bisa jadi beliau lupa membuka halaman tentangku hari ini, menaburkan sedikit benih keberuntungan di tidurku tadi malam.

****

12.55, July 27

Ketika kau tak lagi menemukan perempuan cantik, menarik, dan indah itu dalam dua kesempatan berturut-turut, kau cenderung akan menyimpulkan, barangkali rejekimu bukan di situ. Setidaknya itu hal sama yang kupikirkan, sambil melangkah perlahan ke dalam lift, mencoba menghibur diri bahwa setidaknya aku telah berkesempatan menikmatinya lewat tatapan, dia perempuan cantik, menarik, dan indah.

Belum seluruhnya pintu lift ini tertutup ketika sebuah dentingan perlahan memaksaku mengangkat kepala, ingin tahu manusia mana gerangan yang berani mengganggu lamunanku dengan memaksa membuka lift yang hampir tertutup? Dan di sanalah ia berdiri, perempuan cantik, menarik, dan indah yang kukira hanyalah sebuah ilusi siang hari.

Masih dengan langkah kecil ia bergabung di lift yang sama, lift yang membawaku naik di pojokannya yang dingin. Sekilas sebersit senyum rasanya kulihat di ujung bibirnya, sebuah senyum yang kerap kali adalah sebuah ilusi yang sama. Hal yang mengherankan dari keberanian kita untuk bersosialisasi, memulai pembicaraan dengan seorang asing, adalah perasaan bahwa orang tersebut tidak bersikap hati-hati ketika kita berada di sekitarnya. Dan senyum, siapa pun tahu, adalah ungkapan selamat datang, manifestasi izin. Persoalan apakah senyum itu memang benar ada di sana, atau bahwa itu hanyalah sebuah ilusi yang dipaksakan, selanjutnya adalah urusan lain. Bisa jadi kita memang permisif soal itu, sebab jika tidak, bagaimanakah caranya memulai berbicara dengan orang lain, yang kita tidak kenal sama sekali?

Senyum yang sama pula, senyum yang tak jelas apakah nyata atau ilusi, yang membangkitkan keberanian untuk sekedar berbasa-basi.

“Kerja di sini juga?”

Ia menoleh sekitar sejenak (aku tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu. Sebelum dia naik pun, dia tahu bahwa tak ada orang lain di lift ini selain kami berdua. Apakah dia berpikir bahwa aku mungkin bertanya pada angin???), sebelum menautkan lagi senyumnya

“He eh. Anda di sini juga?” (Please, jangan gunakan bahasa formil itu dulu).
“Yup. di lt. 25. Lt. 18, perusahaan apa?” (nyengir, yang aku yakin sungguh-sungguh jelek sebenarnya. Tapi apa yang bisa kulakukan?)
“Asuransi”
Lalu beku. Kalau ada kutukan paling besar yang diberikan nasib padaku, itu adalah kenyataan bahwa otakku terlalu lamban untuk mencari bahan pembicaraan :D . Dan sebelum ide itu muncul, lift sudah keburu berhenti. Sambil menoleh, *dan tersenyum lagi*, ia melangkah.
“Saya duluan”
“Saya Bima”.
Sekilas tawa samar berkembang di wajahnya, tawa yang segera hilang bersama pintu lift yang kelihatannya tidak bisa memutuskan, bahwa sebaiknya ia menutup lebih perlahan jika ada perempuan cantik, menarik, dan indah sedang turun dari lift. Huh…

****

07.35, July 30th

“Keberatan kalau saya bergabung?”

Entah angin apa yang membuatku turun ke tempat ini, pagi ini, dengan perut yang sedemikian lapar minta diisi. Lebih jauh lagi, entah mimpi apa yang membuatku terbangun begitu cepat pagi ini. Tiba di kantor ketika hanya satu dua kawan yang sudah muncul, aku segera tahu bahwa segelas kopi, dan sebatang rokok di foodcourt gedung, adalah teman paling baik untuk menunggu jam-jam membosankan dari pekerjaan ini dimulai.

“Asal jangan ambil makanan saya saja…”

Lalu tawa samar, yang kulihat sekilas di lift tiga hari yang lalu, kini menemukan bentuknya dengan cara yang lebih terbuka, lebih mempesona (sungguh, kata ini terdengar sangat *murahan*, tapi saya belum menemukan lagi kata lain yang tepat :D ). Sambil mengambil posisi duduk yang enak, saya teringat ucapan seorang teman. Inilah perasaan itu, kupu-kupu dalam perut yang menari seiring sosoknya nyata di hadapanku.
“Sendirian aja?” (aduh, lagi-lagi pertanyaan basi…).
“Yup. Abis belum ada orang di kantor.” (seberapa lama lagikah ia akan bersikap manis sebelum akhirnya memutuskan bahwa lelaki di hadapannya ini adalah seorang yang membosankan. Kuharap masih akan berlalu dua atau tiga kalimat lagi).
“Orangtua saya pernah bilang, tidak baik orang duduk makan sama-sama, tanpa saling tahu nama”.
“Apakah orang tua anda juga pernah bilang, sangat beresiko mengganggu orang yang sedang sarapan pagi?”. (Kini, tawa itu berubah senyum nakal, seperti seorang anak lelaki yang menyembunyikan mainan adik perempuannya).
“Mereka pernah bilang begitu sih. Tapi mereka juga bilang, tidak perlu takut mengambil resiko itu. Paling banter kamu akan ditinggal begitu saja, sebelum sarapan yang kamu pesan sempat tiba di meja”
“He…he…he… Arin”
“Arin saja?”
“Saya kira anda akan cukup bijak untuk puas dengan itu di pembicaraan pertama”
“Berarti akan ada pembicaraan kedua dong?”
“Saya tidak mengatakan itu lho :D
“Setidaknya saya akan cukup puas dengan berandai-andai, he he he “

Demikianlah waktu kemudian berlalu dengan sangat cepat. Seperti biasa, waktu memang tak pernah berkompromi. Ia tidak akan mau tahu, apakah kau sedang menikmati pembicaraan yang hangat tentang pekerjaanmu yang kelihatannya mendadak menarik, atau kau yang mendadak tertarik pada asuransi, atau tentang cuaca yang sepertinya perlu diperhatikan. Seperti juga ia tidak mau tahu bahwa kau sedang diam-diam merekam setiap gerak bibirnya, setiap tarikan halus di wajahnya, setiap tawa samar yang menggeliat dari perempuan cantik, menarik, dan indah di hadapanmu. Ia tidak akan mau tahu. Sebab waktu tak pernah jatuh cinta.

Ia akan menarik setiap detik, setiap menit dari waktu yang sedang kau paksa untuk berjalan lebih lambat, sebelum akhirnya kau menyerah, berjalan bersisian menuju lift sambil berusaha mencuri-curi pembicaraan tambahan, mencoba mengorek lebih dalam tentang dia, perempuan cantik, menarik dan indah yang baru saja sarapan denganmu. Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengalir, sampai kau sadar bahwa tak lagi ada waktu yang cukup untuk itu, dan kau tahu bahwa pertemuan berikutnya adalah kuncinya.

“Keberatan kalau kita saling tukar kartu nama?” Kutarik kartu nama dari dompet dengan agak tergesa.
“Jika begitu, anda akan dapat terlalu banyak. Arin saja, cukup untuk hari ini”. Senyum nakal itu muncul lagi, memenjarakanku dalam lamunan sesaat.
“Kalau begitu saya akan berikan saja. Siapa tahu mendadak anda tidak punya kerjaan, atau tidak punya orang untuk dihubungi untuk makan siang bersama, he he he”.
“Fair enough :) . Duluan ya !”

Sambil meraih kartu nama dari tanganku ia melenggang perlahan. Dan aku amat yakin, dapat kulihat seringai puas dari ayunan rambutnya sementara pintu lift menutup keberadaannya.

****

* Ditulis dengan ingatan kepada kalimat “Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah…”, Seno Gumira Ajidarma, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Kumpulan Cerpen, Cetakan Kelima, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003, hal. 5

26 Juli 2005, 00.47. Ini cerpen pertama yang saya tulis di blog ini, sekaligus cerpen pertama yang pernah saya buat :D . Saya punya perasaan bahwa cerpen ini semestinya belum selesai, tapi biarlah, lain kali mungkin saya bisa menyelesaikannya. Lagipula saya sudah mengantuk sekali malam ini