Archive for July, 2005

Ia seorang perempuan cantik, menarik, dan indah

Ia seorang perempuan cantik, menarik, dan indah. *

12.15, July 25th

Ia seorang perempuan cantik, menarik, dan indah. Bagaimana aku bertemu dengannya, mungkin adalah sebuah cerita klise. Cerita yang sama, yang juga mungkin akan kusebutkan, tentang pertemuan-pertemuanku dengan perempuan-perempuan lainnya. Cerita yang sama tentang angin kering Jakarta yang meniupkan sebuah bisikan akan seorang perempuan yang cantik, menarik, dan indah di arah jam 2. Lalu tentang mata yang mendadak berkhianat, berputar 60,90,120 derajat, sebelum akhirnya otak menemukan kesadaran. Demikianlah kaki kemudian berhenti, dan selanjutnya adalah pandangan terpaku, dan sebersit tanya menggumam di udara “Bagaimana mungkin perempuan semenarik, secantik, dan seindah itu bisa berjalan sendirian?”.

Lalu mungkin aku akan bercerita tentang bagaimana aku setengah berlari mengejar langkah-langkah kecilnya yang teratur, menjaga jarak sedemikian sehingga tidak terlalu mencolok, tapi juga tidak akan kehilangan jejak. Sesekali membuang muka jika mendadak tak sengaja mata kami bertemu ketika mungkin malaikat pelindungnya membisikkan cerita tentang seorang asing yang mengikutinya dari kejauhan.

Ia bekerja di gedung yang sama denganku. Lebih jauh lagi, ia naik lift yang sama denganku, hal baru yang kutemukan kemudian. Hal baru yang juga akan membersitkan tanya yang sama “Bagaimana mungkin perempuan semenarik, secantik, dan seindah itu bisa naik lift yang sama denganku, tanpa pernah berpapasan sekalipun?”. Tetapi seperti biasa, tanya tetaplah tinggal tanya, sementara pintu lift menelan tubuhnya. Kuputar langkah, kembali ke jalan yang sama, diam-diam bersiul perlahan, sambil berharap keberuntungan yang sama akan muncul kembali esok hari, di jam yang sama ini.

****

12.10 , July 26

Mengambil resiko untuk menunggui lift kelihatannya akan terdengar sangat memalukan, sehingga kuputuskan untuk berjudi dengan peruntungan. Berjalan pelan-pelan, kuputuskan mengawasi dunia sekitar, berharap perempuan cantik, menarik, dan indah yang sama kemarin akan muncul dengan cara yang sama pula. Tinggal lima meter dari food court tempatku biasa makan, sebelum akhirnya aku memutuskan bahwa kelihatannya Dewi Fortuna sedang tidur. Atau kalaupun tidak, bisa jadi beliau lupa membuka halaman tentangku hari ini, menaburkan sedikit benih keberuntungan di tidurku tadi malam.

****

12.55, July 27

Ketika kau tak lagi menemukan perempuan cantik, menarik, dan indah itu dalam dua kesempatan berturut-turut, kau cenderung akan menyimpulkan, barangkali rejekimu bukan di situ. Setidaknya itu hal sama yang kupikirkan, sambil melangkah perlahan ke dalam lift, mencoba menghibur diri bahwa setidaknya aku telah berkesempatan menikmatinya lewat tatapan, dia perempuan cantik, menarik, dan indah.

Belum seluruhnya pintu lift ini tertutup ketika sebuah dentingan perlahan memaksaku mengangkat kepala, ingin tahu manusia mana gerangan yang berani mengganggu lamunanku dengan memaksa membuka lift yang hampir tertutup? Dan di sanalah ia berdiri, perempuan cantik, menarik, dan indah yang kukira hanyalah sebuah ilusi siang hari.

Masih dengan langkah kecil ia bergabung di lift yang sama, lift yang membawaku naik di pojokannya yang dingin. Sekilas sebersit senyum rasanya kulihat di ujung bibirnya, sebuah senyum yang kerap kali adalah sebuah ilusi yang sama. Hal yang mengherankan dari keberanian kita untuk bersosialisasi, memulai pembicaraan dengan seorang asing, adalah perasaan bahwa orang tersebut tidak bersikap hati-hati ketika kita berada di sekitarnya. Dan senyum, siapa pun tahu, adalah ungkapan selamat datang, manifestasi izin. Persoalan apakah senyum itu memang benar ada di sana, atau bahwa itu hanyalah sebuah ilusi yang dipaksakan, selanjutnya adalah urusan lain. Bisa jadi kita memang permisif soal itu, sebab jika tidak, bagaimanakah caranya memulai berbicara dengan orang lain, yang kita tidak kenal sama sekali?

Senyum yang sama pula, senyum yang tak jelas apakah nyata atau ilusi, yang membangkitkan keberanian untuk sekedar berbasa-basi.

“Kerja di sini juga?”

Ia menoleh sekitar sejenak (aku tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu. Sebelum dia naik pun, dia tahu bahwa tak ada orang lain di lift ini selain kami berdua. Apakah dia berpikir bahwa aku mungkin bertanya pada angin???), sebelum menautkan lagi senyumnya

“He eh. Anda di sini juga?” (Please, jangan gunakan bahasa formil itu dulu).
“Yup. di lt. 25. Lt. 18, perusahaan apa?” (nyengir, yang aku yakin sungguh-sungguh jelek sebenarnya. Tapi apa yang bisa kulakukan?)
“Asuransi”
Lalu beku. Kalau ada kutukan paling besar yang diberikan nasib padaku, itu adalah kenyataan bahwa otakku terlalu lamban untuk mencari bahan pembicaraan :D . Dan sebelum ide itu muncul, lift sudah keburu berhenti. Sambil menoleh, *dan tersenyum lagi*, ia melangkah.
“Saya duluan”
“Saya Bima”.
Sekilas tawa samar berkembang di wajahnya, tawa yang segera hilang bersama pintu lift yang kelihatannya tidak bisa memutuskan, bahwa sebaiknya ia menutup lebih perlahan jika ada perempuan cantik, menarik, dan indah sedang turun dari lift. Huh…

****

07.35, July 30th

“Keberatan kalau saya bergabung?”

Entah angin apa yang membuatku turun ke tempat ini, pagi ini, dengan perut yang sedemikian lapar minta diisi. Lebih jauh lagi, entah mimpi apa yang membuatku terbangun begitu cepat pagi ini. Tiba di kantor ketika hanya satu dua kawan yang sudah muncul, aku segera tahu bahwa segelas kopi, dan sebatang rokok di foodcourt gedung, adalah teman paling baik untuk menunggu jam-jam membosankan dari pekerjaan ini dimulai.

“Asal jangan ambil makanan saya saja…”

Lalu tawa samar, yang kulihat sekilas di lift tiga hari yang lalu, kini menemukan bentuknya dengan cara yang lebih terbuka, lebih mempesona (sungguh, kata ini terdengar sangat *murahan*, tapi saya belum menemukan lagi kata lain yang tepat :D ). Sambil mengambil posisi duduk yang enak, saya teringat ucapan seorang teman. Inilah perasaan itu, kupu-kupu dalam perut yang menari seiring sosoknya nyata di hadapanku.
“Sendirian aja?” (aduh, lagi-lagi pertanyaan basi…).
“Yup. Abis belum ada orang di kantor.” (seberapa lama lagikah ia akan bersikap manis sebelum akhirnya memutuskan bahwa lelaki di hadapannya ini adalah seorang yang membosankan. Kuharap masih akan berlalu dua atau tiga kalimat lagi).
“Orangtua saya pernah bilang, tidak baik orang duduk makan sama-sama, tanpa saling tahu nama”.
“Apakah orang tua anda juga pernah bilang, sangat beresiko mengganggu orang yang sedang sarapan pagi?”. (Kini, tawa itu berubah senyum nakal, seperti seorang anak lelaki yang menyembunyikan mainan adik perempuannya).
“Mereka pernah bilang begitu sih. Tapi mereka juga bilang, tidak perlu takut mengambil resiko itu. Paling banter kamu akan ditinggal begitu saja, sebelum sarapan yang kamu pesan sempat tiba di meja”
“He…he…he… Arin”
“Arin saja?”
“Saya kira anda akan cukup bijak untuk puas dengan itu di pembicaraan pertama”
“Berarti akan ada pembicaraan kedua dong?”
“Saya tidak mengatakan itu lho :D
“Setidaknya saya akan cukup puas dengan berandai-andai, he he he “

Demikianlah waktu kemudian berlalu dengan sangat cepat. Seperti biasa, waktu memang tak pernah berkompromi. Ia tidak akan mau tahu, apakah kau sedang menikmati pembicaraan yang hangat tentang pekerjaanmu yang kelihatannya mendadak menarik, atau kau yang mendadak tertarik pada asuransi, atau tentang cuaca yang sepertinya perlu diperhatikan. Seperti juga ia tidak mau tahu bahwa kau sedang diam-diam merekam setiap gerak bibirnya, setiap tarikan halus di wajahnya, setiap tawa samar yang menggeliat dari perempuan cantik, menarik, dan indah di hadapanmu. Ia tidak akan mau tahu. Sebab waktu tak pernah jatuh cinta.

Ia akan menarik setiap detik, setiap menit dari waktu yang sedang kau paksa untuk berjalan lebih lambat, sebelum akhirnya kau menyerah, berjalan bersisian menuju lift sambil berusaha mencuri-curi pembicaraan tambahan, mencoba mengorek lebih dalam tentang dia, perempuan cantik, menarik dan indah yang baru saja sarapan denganmu. Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengalir, sampai kau sadar bahwa tak lagi ada waktu yang cukup untuk itu, dan kau tahu bahwa pertemuan berikutnya adalah kuncinya.

“Keberatan kalau kita saling tukar kartu nama?” Kutarik kartu nama dari dompet dengan agak tergesa.
“Jika begitu, anda akan dapat terlalu banyak. Arin saja, cukup untuk hari ini”. Senyum nakal itu muncul lagi, memenjarakanku dalam lamunan sesaat.
“Kalau begitu saya akan berikan saja. Siapa tahu mendadak anda tidak punya kerjaan, atau tidak punya orang untuk dihubungi untuk makan siang bersama, he he he”.
“Fair enough :) . Duluan ya !”

Sambil meraih kartu nama dari tanganku ia melenggang perlahan. Dan aku amat yakin, dapat kulihat seringai puas dari ayunan rambutnya sementara pintu lift menutup keberadaannya.

****

* Ditulis dengan ingatan kepada kalimat “Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah…”, Seno Gumira Ajidarma, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Kumpulan Cerpen, Cetakan Kelima, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003, hal. 5

26 Juli 2005, 00.47. Ini cerpen pertama yang saya tulis di blog ini, sekaligus cerpen pertama yang pernah saya buat :D . Saya punya perasaan bahwa cerpen ini semestinya belum selesai, tapi biarlah, lain kali mungkin saya bisa menyelesaikannya. Lagipula saya sudah mengantuk sekali malam ini

Weekend : Gie

Hari Jum’at kemarin, akhirnya saya berkesempatan menyaksikan film yang belakangan dipromosikan gila-gilaan, Gie. Awalnya gara-gara ngobrol dengan atta di YM. Ngobrol sana ngobrol sini, akhirnya kita memutuskan untuk nonton film itu, sekalian untuk ketemuan pertama kali *tsahhhh*. Sebab saya sangat penasaran, seperti apakah bentuk orang yang menulis dengan sangat menarik ini :D .

Waktu ketemu Atta, saya kaget sebab gayanya mirip betul dengan gaya seorang teman saya. Sangat familiar, he he he. Dan sangat hangat tentu. Dengan cepat kemudian kita menjadi akrab. Mungkin karena selama ini sudah sering ngobrol di YM, atau memang karena dia sangat cerewet, atau saya yang merasa tidak asing.

Menyaksikan film Gie, saya kok merasa tidak terlalu istimewa ya. Yang cukup menghibur malah soundtrack-nya, dan penggarapan gambarnya. Mungkin karena film itu disajikan dalam penggalan-penggalan, yang semestinya membutuhkan latar belakang penonton untuk memahaminya. Bisa jadi, itu adalah sebuah strategi pemasaran, supaya orang-orang lebih penasaran :D .

Mungkin menampilkan potret seorang demonstran bukanlah pekerjaan gampang. Tapi saya salut dengan akting para pemainnya, kecuali Wulan Guritno (menurut saya dia tidak cocok ada di situ, he he he). Nicholas oke, apalagi Sita RSD.

Begitulah, keseluruhan tidak terlalu greget. Ataukah selera saya yang payah?

Chairil Anwar

Mungkin buat kawan-kawan, nama Chairil Anwar bukan lagi nama yang asing. Setidaknya bagi mereka yang bersekolah di Indonesia. Bukankah dalam setiap pelajaran sastra Bahasa Indonesia, namanya selalu tercantum di garda depan Angkatan ‘45?

Saya pertama kali berkenalan dengan Chairil waktu masih SMP. Waktu itu pelajaran sastra Indonesia, dibawakan oleh Ibu Tarigan. Saya harus berterima kasih pada ibu ini, karena beliau membawakan pelajaran sastra dengan sangat menyenangkan. Saya masih ingat betul, beliau meminta kita semua maju ke depan, satu per satu, membawakan puisi Chairil yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela . Kalau tidak salah, sanjak ini sendiri adalah terjemahan, tapi saya lupa persis detil sejarahnya. Yang jelas bait pembukanya

Beta Pattirajawane, yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Sanjak itu sebenarnya buat saya biasa-biasa saja. Yang bagi saya menggetarkan, adalah ketika pertama kali membaca Karawang-Bekasi, yang menurut literatur adalah juga terjemahan, atau hasil plagiat Chairil. Berkenalan dengan sanjak itu, kemudian saya mulai intens mencari karya-karya Chairil. Mulailah kemudian berkenalan dengan Aku, Kepada Peminta-Minta, Cintaku Jauh di Pulau, Doa, Yang Terempas dan Yang Putus.

Chairil adalah salah satu alasan pertama saya menyukai kesusastraan Indonesia. Karya-karyanya yang suram tapi menggelegar buat saya sangat memukau. Dan dalam usia semuda itu pula. Sayang, beliau harus meninggal dalam usia muda. Sendirian pula. Apakah memang begitu kecenderungan orang-orang besar yang bergulat dengan pemikiran sendiri? Hidup dalam peperangan pemikiran, lalu mati sendirian?

Mungkin sesudah membuat Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Gie, Mira Lesmana akan tertarik membuat seri berikutnya, dengan tokoh sentral Chairil Anwar. Saya kira itu akan jadi film yang menarik :) .

Sekedar kenang-kenangan akan Chairil, saya ingin sekedar mengutip satu sanjaknya di sini.

Yang Terampas Dan Yang Putus

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

A Message From Mother Teresa

People are often unreasonable,
Illogical, and self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind,
People may accuse you of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway.

If you are successful,
You will win some false friends and some true
enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and frank,
People may cheat you;
Be honest and frank anyway.

What you spend years building,
Someone could destroy overnight;
Build anyway.

If you find serenity and happiness,
They may be jealous;
Be happy anyway.

The good you do today,
People will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the world the best you have,
And it may never be enough;
Give the world the best you’ve got anyway.

You see, in the final analysis,
It is between you and God;
It never was between you and them anyway

Menjadi apatis

Sabtu kemarin, ketika sedang menikmati serial Desperate Housewives, handphone saya mendadak berdering nyaring. Padahal itu sudah jam 10 malam (jarang sekali hal seperti itu terjadi pada saya :D ). Saya lihat display, muncul nomor yang tidak saya kenal. Hmm, mikir sejenak, lantas saya angkat :
Lus lagi di mana?
Ini siapa ya?
Timot
Eh Mot, apa kabar lu?
Baik. Gw sebenarnya mo nebeng nginep neh. Bisa gak?
Lho ???
Tadi gw abis ketemu mbak Ani ama Agnes. Trus udah kemaleman kalau mau pulang ke Cikarang. Jadi lagi nyari tempat nginep nih. Ada teras atau apa ngga yang kosong?
Ya wis, dateng aja.

Berhubung kamar saya sedang berantakan (seperti biasa :D ), akhirnya saya gunakan beberapa menit untuk membereskan kamar, mengambil matras kecil dari atas lemari, dan menaruhnya di lantai. Beruntung saya akhirnya punya matras cadangan, sejak adik saya datang ke sini beberapa waktu yang lalu. Dalam kondisi mendadak seperti ini, terbukti barang itu bisa jadi perlengkapan yang sangat membantu.

Timot adalah seorang teman lama dari kuliah. Sudah cukup lama saya tidak bertemu dengan orang ini, selain sedikit chit-chat di Yahoo, serta komunikasi lewat email. Dia bekerja di daerah Cikarang, jadi sangat bisa dimaklumi, dengan kondisi Jakarta seperti ini, kalau kita jarang ketemu. Selain itu, kita memang tidak terlalu dekat sih. Jadi ya ngga heran, he he he.

Dulu dia maen di pergerakan, terutama menjadi aktivis buruh semasa kuliah di Bandung. Aktivitas yang sempat membuat kuliahnya terganggu, bahkan terancam drop-out. Bersyukur, dengan dukungan dari beberapa teman akhirnya dia bisa lulus (saya bukannya mengatakan bahwa beberapa kawan yang akhirnya tidak menyelesaikan kuliahnya lantas tidak beruntung, sebab ternyata pada akhirnya lulus kuliah bukanlah suatu ukuran. Walaupun struktur sosial, terutama struktur dunia kerja, masih dengan jelas membedakan mereka yang “lulus kuliah” dengan mereka yang “tidak lulus kuliah”). Zaman itu, pun saya masih terlibat dalam kaderisasi kaum muda, bersama beberapa teman. Dulu ada canda-candaan, bahwa bagi orang lapangan seperti Timot, yang langsung terjun ke akar rumput, kelompok kaderisasi adalah kelompok banci :) . Maksudnya, bisanya hanya mikir, bikin pelatihan, tidak langsung turun ke bawah, mengajarkan sesuatu dalam tataran pemikiran, bukan dalam tataran praksis. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa kita tidak terlalu dekat, walaupun kita mempercayai hal yang sama (waktu itu). Ya karena tempat maennya beda. Tapi, bagi mereka-mereka yang pernah terjun di aktivitas ini, adalah semacam ikatan tak tertulis, bahwa sesama kita yang pernah di pergerakan, dalam bidang apapun, adalah saudara, yang tidak perlu sungkan-sungkan satu sama lain. Ada semacam kedekatan, yang tak terlihat di permukaan, tapi bisa dirasakan antara satu dengan yang lain.

Mengingat lagi ke masa-masa itu, saya akui bahwa saya memang cenderung bermain aman. Dibandingkan menjadi aktivis, yang notabene berarti meningkatkan kemungkinan untuk masuk ke dalam daftar pencarian orang, atau terancam kena gebuk waktu demonstrasi, saya lebih memilih menjadi “think-tank”. Istilah yang sebenarnya berlebihan, he he he. Tapi buat saya itu aktivitas paling aman waktu itu. Daripada orang tua saya kena serangan jantung, melihat anaknya mendadak muncul di televisi, rasanya tidak lucu. Saya bisa digebukin bapak saya habis-habisan, resiko yang saya tidak berani ambil. Dan ada hasil real-nya, walaupun tidak seekstrim kawan-kawan di lapangan. Setidaknya, saya masih berasa, bahwa saya dan beberapa teman menganggap, bahwa kita cukup berkontribusi membantu kawan-kawan yang baru kuliah untuk melihat dunia secara lebih luas, tidak sekedar kampus dan embel-embelnya. He he he, idealisme masa kuliah yang sampai sekarang masih berusaha menemukan pembenarannya.

Kembali ke Timot, sekitar jam 11 malem dia tiba di tempat kos saya. Lalu kita terlibat pembicaraan sana sini. Lebih ke nostalgia kawan-kawan lama sih. Bertanya si ini sekarang main di mana? atau si itu sekarang aktif di mana? Atau si anu sekarang kabarnya apa? Mencoba mencari jejak-jejak yang pelan-pelan hilang, kawan-kawan yang dulu sempat menjadi teman berdiskusi dan bertukar pikiran. Dan saya terkejut menyadari, betapa ternyata saya sangat ketinggalan berita. Mendengar bahwa si ini sekarang sudah di situ, atau si itu ternyata sudah putus dengan si anu, atau ternyata si Polan ternyata sudah menikah dengan Jane Doe, saya tahu, ternyata angin kabar tak lagi singgah di tempat saya :D . Atau mungkin saya yang menjauh?

Beranjak ke dunia kerja, saya akui saya cenderung menjadi apatis. Saya tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di masyarakat. Saya tak lagi perduli dengan masalah-masalah sosial, hal-hal yang dulu sering menjadi bahan diskusi selama bermalam-malam. Beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan semua itu, dan berkonsentrasi penuh ke urusan mencari duit. Saya meninggalkan koran, saya meninggalkan berita televisi, melupakan buku-buku dan ajaran-ajaran yang dulu pernah saya dapatkan.

Dalam perbincangan dengan Timot, saya mengungkapkan itu. Betapa saya telah menjadi seorang apatis. Betapa ternyata kehidupan materialis, uang dan kawan-kawannya, jauh lebih menyenangkan, lebih membius, dan lebih memberi hasil yang jelas. Timot sendiri masih suka bertemu dengan kawan-kawan lama, masih berhubungan dengan kontak-kontak lama, kadang-kadang membantu organisasi ini, atau ikut dalam diskusi itu. Entah dia jujur atau tidak, ketika mengatakan bahwa itu sekedar upaya untuk mengisi waktu, saya juga tidak terlalu yakin. Karena saya tahu betul, semasa kuliah, keyakinannya terhadap pergerakan sangatlah kuat. Tidak seperti saya yang mencla-mencle.

Terus terang, saya merindukan masa-masa itu. Masa-masa ketika otak sangat bergairah. Mendiskusikan persoalan-persoalan di masyarakat, menerbitkan jurnal-jurnal dan publikasi tentang kondisi sosial. Dulu saya sempat berpikir, mungkin seharusnya saya masuk jurusan sosial saja. Tetapi ya itu, namanya idealisme semasa kuliah. Barangkali yang tersisa dari didikan saya selama kuliah, hanyalah kesukaan saya membaca buku. Itupun, sekarang saya tetap bermain aman. Daripada mengunyah buku-buku psikologi sosial atau teori sosial, saya cenderung beralih ke sastra. Ke novel, ke drama, hal-hal yang lebih mudah untuk dicerna.

Ya, saya sudah menjadi apatis. Terus terang itu mengganggu saya di satu pihak, tapi saya tak ingin meninggalkan kenyamanan yang ada sekarang di lain pihak. Atau mungkin, ada kompensasi yang bisa dilakukan dengan kondisi sekarang? Entahlah… kita butuh perenungan lebih jauh untuk itu.

Sementara ini, saya menikmati dulu bertemu dengan teman-teman lama. Jumat depan kita akan jalan bareng. Sudah lama betul rasanya …