Archive for April, 2005

News Update :)

1. TV Cable

Saya sebenarnya merasa agak ‘norak’ menuliskan ini di blog, tapi ya tetap ditulis juga :) . Akhirnya sesudah nunggu beberapa waktu, kini tempat kos saya dilengkapi pula dengan TV kabel. Hi hi hi, norak bukan? Tapi setidaknya ada satu tambahan alasan untuk betah tinggal di kost. Pertama, kost-nya yang sekarang nyaman. Kalau kawan-kawan yang dulu pernah mengunjungi kost saya yang lama, dijamin semua akan mengatakan kalau itu bukanlah tempat kost :D . Tapi sekarang, saya punya tempat kost yang nyaman, bersih, dan cukup lega. Sekarang, ditambah TV kabel, tingkat kesenangan pun bertambah (walaupun itu berarti, tingkat pengeluaran pun bertambah :D ). Yang jelas, kini saya punya banyak pilihan lain, daripada sekedar menonton siaran televisi indonesia yang kini semakin dipenuhi gosip-gosip tak menentu, dan siaran sinetron.

Senangnya :D .

2. Telepon selular
Sony Ericsson K300
Saya akhirnya memutuskan untuk membeli Sony Ericsson K300, thanks to Chuck yang sudah memberikan saran yang sangat baik. Menurut saya, ini salah satu telfon berfitur komplit dengan harga yang terjangkau. Setidaknya dibandingkan dengan telfon-telfon lain yang memiliki fitur yang sama. Dan tentu, salah satu yang membuat telefon SE sangat berguna, adalah kehadiran fma, alias float mobile agent.

Saya pertama kali mengenal software ini dari Chuck. Software yang sangat powerful, dan terutama gratis *kata kunci untuk setiap software yang saya anggap berguna, ha ha ha*. Dengan software ini, bahkan software keluaran resmi Sony Ericsson terlihat sangat tidak berguna.

Inilah beberapa hal yang dapat saya lakukan dengan float mobile agent :

  • Perlengkapan standar software ponsel seperti file browsing, transfer file
  • Menerima dan mengirim SMS lewat laptop saya. Itu berarti, tidak ada lagi capek-capek mengetik pesan melalui keypad handphone, ketika saya sedang bekerja dengan laptop
  • Menerima dan melakukan panggilan dari laptop
  • Mengorganisasikan phonebook dari laptop (tidak lagi sekedar menggunakan keypad handphone)
  • Melakukan pengontrolan komputer dari handphone seperti :
    • Mengontrol presentasi Microsoft Power Point dari ponsel (memulai presentasi, bergerak dari satu slide ke slide lain)
    • Mematikan , me-restart, atau memerintahkan hibernate laptop lewat handphone
    • Mengontrol beberapa software lain, termasuk foobar2000 (software audio player yang saya pakai), Quicktime Media Player, Winamp, dll
  • Backup data ponsel
  • Sinkronisasi kontak dari ponsel dengan addressbook di Microsoft Outlook *walaupun sebenarnya bagi saya tidak ada gunanya, karena toh saya tidak memakai Microsoft Outloook*

dan masih banyak rahasia-rahasia lain, yang sampai sekarang belum sempat saya eksplorasi lebih jauh :D .

Which OS Are You ??

Iseng-iseng ke websitenya Ronny Haryanto , saya menemukan link kuis yang lucu :D

You are OS X. You tend to be fashionable and clever despite being a bit transparent.  Now that you've reached some stability you're expecting greater popularity.
Which OS are You?

Negeri Bahagia

Negeri Bahagia

Judul Asli : City Of Joy
Penerbit : Warner Books, New York, 1992
Pengarang : Dominique Lapierre
Judul Terjemahan : Negeri Bahagia
Penerjemah : Wardah Hafidz
Penerbit terjemahan : Bentang (2004)

Berkat kebaikan seorang teman, saya berkesempatan membaca buku ini. Sebuah novel yang didasarkan pada kisah nyata, hasil penelitian pengarang selama dua tahun tinggal di salah satu bagian Calcutta, India. Berkisah tentang sebuah perkampungan kumuh, tempat tinggal orang-orang miskin dan terbuang di Calcutta. Penghuninya merupakan campuran dari segala jenis manusia yang terpinggirkan secara sosial : kaum paria, penderita lepra, sida-sida, dan lain sebagainya. Tempat yang harapan hidup penghuninya mencapai tingkat terendah di dunia, karena penyakit seperti lepra, TBC, disentri dan malnutrisi.

Buku ini ditulis dalam dua sudut pandang yang berbeda. Satu adalah sudut pandang Stephan Kovalski, seorang misionaris Polandia yang memilih hidup sebagai kaum tertindas untuk melaksanakan tugas panggilannya. Bagi Stephan, tugas misionarisnya hanya bisa terpenuhi, dengan menjadi salah seorang dari mereka yang dipinggirkan. Berbekal keyakinan itu, ia datang ke Calcutta, India dan tinggal menjadi salah satu penghuni Anand Nagar. Bertahun-tahun ia melebur menjadi salah satu dari mereka, makan seperti mereka dan hidup seperti mereka. Kehidupan di Anand Nagar kemudian menjadi perjalanan spiritual Kovalski, di mana ia menemukan arti sesungguhnya dari kaul kemiskinan yang pernah dia ucapkan ketika bergabung dengan Serikat Santo Vincensius “menemukan mereka yang paling papa dan terbuang di tempat-tempat mereka berada, hidup bersama mereka, dan mati bersama mereka”.

Sudut pandang kedua adalah sudut pandang Hasari Pal. Seorang petani pedesaan yang terpaksa mengungsi ke Calcutta karena di kampung halamannya, tak ada lagi yang bisa ditanam di sawahnya. Dari mata Hasari Pal, pengalaman kemiskinan kemudian menemukan bentuk yang paling keras. Bagaimana orang-orang miskin menjual darahnya kepada sindikat pedagang darah untuk dapat sekedar bertahan hidup satu atau dua minggu, kemudian mati karena anemia. Atau nasib pedagang angkong, kendaraan angkutan yang ditarik dengan tenaga manusia, yang akhir hidupnya sudah jelas, yakni mati karena serangan TBC yang hebat. Atau seorang yang masih hidup menjaminkan bangkainya kelak akan diambil oleh orang-orang yang memperdagangkan mayat manusia.

Menggambarkan kemiskinan dalam cara yang begitu gamblang, tidak ketinggalan humor-humor pahit pun menyertai. Seperti upacara perencanaan pernikahan anak Hasari Pal, yang sedemikian rumit dan ‘njelimet’, lucu sekaligus getir, sebab, seperti sebuah majalan pernah menulis, “sehingga rasanya tidak akan ada perkawinan kaum bangsawan yang lebih rumit daripada perkawinan orang-orang miskin di Negeri Bahagia”.

Tetapi begitupun kerasnya kehidupan yang dihadapi para penghuninya, seperti dalam kutipan di belakang buku ini, tempat ini diberi nama Negeri Bahagia atau Anand Nagar, bukan tanpa alasan. Kisah-kisah para penghuni Negeri Bahagia menunjukkan, betapa keramahan, ketulusan, cinta kasih, pengorbanan, dan keberanian begitu mudah dijumpai pada manusia-manusia Anand Nagar. Bagi mereka, situasi seburuk apapun tak pernah menjadi penghalang untuk berbagi dan berbahagia.

*Mungkin* tujuan utama penulisan buku ini adalah suatu refleksi pengalaman spiritual yang dialami penulis dalam masa-masa penelitiannya. Bagaimana, dalam situasi yang sama sekali tidak manusiawi, para penghuni Negeri Bahagia tetap dapat menampilkan keluhuran budi seorang manusia yang paling tinggi. Akan tetapi, tidak dapat dihindarkan, bahwa buku ini menggambarkan secara gamblang, bagaimana kemiskinan, dalam skala global, adalah kemiskinan sistemik. Kemiskinan yang mencengkeram sedemikian rupa, sehingga mereka-mereka yang miskin kemudian terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang berulang dari generasi ke generasi. Kemiskinan bukanlah semata-mata produk kemalasan atau keengganan bekerja dari subyek-subyeknya, walaupun tidak dipungkiri bahwa kasus-kasus seperti ini pun umum ditemui. Akan tetapi, dalam skala lebih besar, sadar atau tidak sadar masyarakat telah menciptakan suatu situasi sedemikian rupa, sehingga mereka-mereka yang miskin memiliki akses sangat terbatas pada aset-aset produktif yang mereka butuhkan untuk mengangkat mereka dari kemiskinan yang mereka alami. Lingkaran kemiskinan sistemik ini kerap kali ditandai dengan

  • tidak adanya kepemilikan terhadap faktor-faktor produksi (misalnya tanah dalam kasus masyarakat agraris)yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup secara swadaya
  • minimnya akses terhadap pendidikan yang melanggengkan kebodohan dan memperkecil kemungkinan kaum miskin untuk naik secara strata sosial
  • kepatuhan habis-habisan terhadap ajaran-ajaran keagamaan yang kerap kali tidak lagi aktual, tetapi hanya merupakan bentuk ritual warisan masa lalu
  • minimnya nutrisi yang dibatasi kemampuan akses terhadap makanan dengan nutrisi yang cukup, yang kemudian berpengaruh terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani.

Bukan berarti bahwa kemudian nilai-nilai spiritual yang ditawarkan buku ini menjadi kehilangan makna. Sebab justru dalam praktek-praktek keluhuran yang ditampilkan oleh para penghuni negeri bahagia ini, kita akan diajak berkaca, dalam dunia seperti apa sesungguhnya kita sedang hidup. Jika mereka-mereka yang secara sosial tertindas dan terpinggirkan mampu menampilkan nilai-nilai keluhuran yang tinggi, maka barangkali kesalahan bukanlah terletak pada pihak mereka, tetapi lebih pada struktur masyarakat secara umum, yang tidak memberikan kesempatan akses yang sama terhadap faktor-faktor produksi yang disediakan alam. Lewat buku ini, mungkin kita akan diajak berkaca, tentang bagaimana kehidupan kita sehari-hari, dan betapa sesungguhnya kita masih sangat jauh tertinggal dibandingkan mereka-mereka yang menjadi penghuni Negeri Bahagia

Eternal Sunshine of The Spotless Mind

How happy is the blameless vestal’s lot!
The world forgetting, by the world forgot
Eternal sunshine of the spotless mind!
Each pray’r accepted, and each wish resign’d!

(Alexander Pope – Eloisa to Abelard)

Sudah nonton film Eternal Sunshine to The Spotless Mind ? Judul film itu diambil dari tulisan Alexander Pope yang saya kutip di atas. Tadi malam saya menyempatkan diri menonton film yang dibintangi Jim Carrey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, ama Elijah Wood ini. Film ini sempat diputer di JiFFest sekitar sebulan yang lalu, tapi waktu itu saya tidak terlalu tertarik menontonnya, gara-gara ada nama Jim Carrey (lihatlah betapa prejudice berpengaruh sangat besar terhadap penilaian dan tindakan saya).

Beberapa hari lalu menyempatkan diri main-main di mal Ambassador, akhirnya saya memutuskan untuk membeli film ini. Maklum, untuk 6000 rupiah, ga ada salahnya mencoba menonton film ini :) .

Dan ternyata ide film, serta filmnya sendiri, sangat menukik hati. Pertanyaan yang menyeruak adalah seberapa besar sebenarnya harga dari sebuah memori? Jika ada orang yang memberikan jasa menghapus seseorang dari pikiran kita, bersediakah kita untuk melakukannya?

Film ini bercerita tentang Joel (Jim Carrey) yang mendadak menemukan bahwa pacarnya, Clementine (Kate Winslett) tiba-tiba begitu saja melupakan dirinya. Joel dilihat seperti orang lain, dan Clem tidak lagi mengenali dia. Tentu saja, ini menimbulkan kegalauan tersendiri, bagaimana mungkin seseorang yang kemarin begitu mencintai kita, dalam sehari mendadak sama sekali lupa dengan kita?

Pertanyaan ini terjawab dengan satu kiriman berita dari suatu penyedia jasa, dipimpin Dr. Howard Mierzwaik(Tom Wilkinson), yang bersama krunya Mary(Kirsten Dunst), Stan(Mark Ruffalo), dan Patrick (Elijah Wood), yang memberikan layanan penghapusan ingatan manusia tentang seseorang. Badan ini mengabarkan kepada Joel, bahwa Clem telah memutuskan untuk menghapus Joel dari ingatannya.

Marah dengan kenyataan tersebut, Joel mendatangi Howard dan meminta agar dia pun menjalani proses yang sama, menghapuskan Clem dari ingatannya sama sekali. Akan tetapi saat proses penghapusan ini berjalan, dan perlahan-lahan memori-memori tentang Clem satu per satu hilang dari ingatannya, Joel malah menemukan kembali bahwa sesungguhnya dia benar-benar mencintai Clem. Dalam tekanan proses penghapusan itu, Joel berusaha membatalkan proses penghapusan memori itu, bermain kucing-kucingan dengan Dr. Howard dan kru-nya.

Terlepas dari persoalan teknis bagaimana prosedur penghapusan itu dilakukan, ide ceritanya sendiri menurut saya sangat brilian. Secara pribadi saya yakin, bahwa kalau saja saya mampu memberikan jasa penghapusan memori tentang seseorang, bisa jadi ini akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan :) . Berapa banyak dari kita menghabiskan sekian banyak waktu, tenaga, dan materi, untuk menghapuskan seseorang yang pernah dan masih menyita pikiran kita? Bukankah itu suatu pasar yang sangat potensial? He he he…

Kembali ke pertanyaan, seberapa besar sesungguhnya arti dari sebuah kenangan? Dan apakah dengan menghapuskan kenangan, maka lantas persoalan menjadi terselesaikan? Hal ini terlihat sangat jelas dari kasus Mary. Mary, secara diam-diam ternyata menyukai Dr. Howard, bos-nya. Belakangan ketahuan, bahwa ternyata kejadian itu pernah terjadi. Mary, sebelumnya pernah menyukai Dr. Howard. Karena Dr. Howard sendiri sudah menikah, maka mereka memutuskan bahwa hal tersebut tidak boleh diteruskan, dan Mary pun menjalani proses penghapusan Dr. Howard dari ingatannya. Tapi yang terjadi kemudian, meskipun Mary sudah melupakan Dr. Howard, dan proses penghapusan berlangsung dengan baik, ternyata perasaan itu muncul lagi pada Mary, lewat intensitas dan komunikasi mereka. Seperti orang yang baru kenal, dan kemudian saling menyukai.

Menonton film ini, seperti menyimak sebuah cerita tentang bagaimana kenang-kenangan tidak sekedar titik-titik tertentu dari otak kita, yang bisa dihapus sedemikian rupa. Barangkali, cinta memang bukan persoalan sains, dan karenanya tidak bisa diselesaikan dengan sains.

Ah, tapi hari gini masih bicara cinta?

The Gift Of Being Single

The Gift of Being Single (author unknown)

Too often people want what they want, or think they want at the moment, which is usually “happiness” right now. The irony of their impatience is that only by learning to wait, and by willingness to accept the bad with the good do we usually attain those things that are truly worthwhile.

I have blessings which is sometimes seen as a curse. I am blessed with the gift of being single. For most of us twenty something young professionals, or simply single people it seems the world has already come up with its own set of expectations on how we should live life. The world expect us to finish school in our early twenties, get a job, find the love of our lives by the time we reach our mid-twenties, marry and have kids. But the thing is, not everyone sees their dreams come true in the same way.

In this entry, I shall try to endeavor to change the way the world looks at being single.

The Art of Contentment.

For most of us, being single will be more of a phase than a final destination. This is the best place to practice the art of contentment. Someday, I’m sure most of us will fall in love and get married. But the thing is, love will always be tested. Someone more handsome, more charming, richer, funnier, sweeter would come along. If you have not practiced the art of contentment as a single person, chances are you would be tempted to want that and not cherish your chosen one. Practicing The Art of Contentment as a single person means that you take what life gives you, good or bad, you’re willing to see it through. It means you don’t walk away every time things get tough because it builds in your patience, perseverance, understanding and a hundred different virtues that people in a hurry will never have. Being single means you would find how it feels to be alone thus, allowing you to cherish every moment you spend with your chosen one. The Art of Contentment means you wouldn’t mind if life had to make you wait for so long to find the love of your life, because you know that the waiting would only make the finding much sweeter.

A Time To Know Yourself Better

Being single is a time of your life when you can get to know yourself better. You can pursue different interests and passions without having to ask another person’s approval. It is a phase when you can keep focus on other things, discover your potentials and talents, and see yourself become more than what you expect to be. Allow yourself to surprise you. Stop wasting precious energy trying to figure out why you’re still romantically unattached. It’s all in the mind. Take the time to go see your friends, spend time with your family, do charity work and you will realize that you are not, and never for one moment, was alone. Try to get to know yourself first before you try to get to know other people. To be truly loved means to be known and accepted for who you are. How do you expect other people to know you and to love you, when you don’t know who and what you really are?

A Choice between Good and Best.

Sometimes the dilemmas we face are not between what is absolutely bad and absolutely good. Sometimes, it’s between good and best. Treat this stage of your life as a phase to evaluate who is good for you and who is best for you. Sometimes, you won’t hear music, or feel magic to know who’s best for you. The heart just knows and it doesn’t need any romantically charged scenario to decide on the matter. Trust in your heart, and trust that time will eventually lead you to, not to the perfect partner, but to the most suitable partner for you. Being single is a phase of life that we need to be thankful for, because being single means our hearts have yet to choose the best one for us. *there’s nothing wrong with being single…time will come…and you’ll see…

note : this is just a good thought. That I put this in my blog doesn’t necessarily means that this article reflects my opinion on the issue of being single. You will have to find out yourself :D