I read theories about friendship, I even invented some
But I’m so far away from the word “friend”
I hope He still give me time to be your good friend
(Hyoga)

Dude, what’s up with you? he he he
Is it a forwarded message? :P
Take it easy lah, as we always did
I ain’t no better either
(Ulus)

Jadi ceritanya gini. Seorang teman, teman lama waktu di kuliah dulu (buset, ternyata dua tahun lulus kuliah itu udah kerasa lama ya) tiba-tiba ngirim sms ke gue, out of the blue, berisi sms itu. Namanya Yoga, biasa disebut Hyoga sama anak-anak (well, dia sendiri yang invent namanya menjadi Hyoganovsky, entah nemu di mana itu anak).

Gue kenal Yoga di ITB, waktu masih sama-sama main di KMK. Waktu tingkat satu, pas gue masih culun-culunnya dan baru datang ke Bandung dari Medan tea, dan dia masih bergaul dengan kawan-kawannya dari SMA (anak Aloysius Bandung waktu itu), gue pernah menganggap dia dan teman-temannya tidak worthed untuk ditemani, tipikal anak gaul yang menyebalkan (waktu itu gue masih menganggap semua anak kota itu anak gaul, anak manja, dan tidak pantas ditemani, God forgive me :D ). Ternyata di kemudian hari, dia dan teman-teman akrabnya yang dulu gue anggap anak-anak gaul yang menyebalkan itu (Aryo, sempat di Perancis atau udah di Jakarta lagi ya?, dan Andre, si gila yang sekarang menggali laut di Ternate) turns out to be temen-temen yang sangat menyenangkan. So weird how prejudice can affect your action and how you see people. And worse, it often goes wrong.

Nah, gue mulai deket ama Yoga di tingkat dua, waktu kita sama-sama mulai terlibat di aktivitasi Keluarga Mahasiswa Katolik di ITB. Waktu itu gue lagi demen-demennya berorganisasi, dan ternyata dia dengan segala kegilaan dan kreatifitasnya adalah salah seorang teman yang sempurna waktu itu. Bukan cuma karena dia ganteng dan membuatnya digilai perempuan-perempuan di sekitarnya (sayangnya gue bukan termasuk dalam jenis itu, he he he), tapi juga karena dia punya energi, kreatifitas yang cukup, komitmen kuat, rasa humor yang cocok. Bersama salah satu bajingan lainnya, Vanda (gue lebih sering manggil dia Gultom), kita bertiga mulai menghuni KMK yang waktu itu mulai pertama kali memperoleh sekretariat resmi, seperti juga beberapa unit lain di ITB.

Bareng Yoga dan Gultom, gue mulai memformulasikan hal-hal gila dan aneh. Tentu dengan dukungan Aryo juga, yang waktu itu aktif di Unit Tenis dan berbagi sekretariat dengan KMK. Kami mulai merintis berbagai permainan, dari maen kartu, maen karambol *punya unit tenis yang sampai sekarang masih ada*, bikin buku komunikasi, sehingga dari bertiga, sekretariat pun mulai agak ramai, sampai menjadi sangat ramai. Secara pribadi, gue merasa kharisma Yoga serta kegilaan selera humor si Vanda adalah aspek penting dari mulai ramenya sekretariat waktu itu. I don’t feel i’m quite important actually, and that’s probably the reason why I was picked up to be chairman of KMK. Well, you can’t pick important people to a chairman of an organization, because once the chairman falls, the organization falls as well.

Tak hanya permainan, kami pun mulai merintis suatu organisasi di mana kami bertiga merasa senasib sepenanggungan, jomblo. Lahirlah KMK Jomblo Society, suatu organisasi informal tanpa bentuk :P , dengan semboyan menjomblokan masyarakat dan memasyarakatkan jomblo. Tidak tanggung-tanggung, kita nyusun anggaran dasar, membangun majalah dJomblie, majalah para jomblo, memasyarakatkan makar(makan-makan dan bakar-bakar), yang tujuan utamanya adalah bersenang-senang dengan cara makan-makan dan manggang daging di lingkungan kampus. Those are really good times. Dan orang-orang gila pun berdatangan. Jimmy, Kampeng, Yebe, David, Ganda, Irwanda, lalu Bondra, adalah beberapa dari mereka yang kemudian menjadi teman-teman yang tak lekang dimakan waktu (buset, bahasanya).

Satu hal yang paling gue rasa cocok dengan Yoga adalah melankolisnya. Dia adalah orang, yang dalam bahasa gua, “tau memperlakukan perempuan sehingga mereka merasa berharga dan dihargai”. Tidak gombal, walaupun waktu itu kita masih sering memformulasikan cara-cara aneh bagaimana mendapatkan cewek, menulis puisi-puisi garing dan membosankan, membangun Lentera, majalah komunikasi internal KMK ITB. Gue masih inget waktu itu kita lagi nongkrong-nongkrong di sekre. Dan lewatlah wanita ini,wanita terindah ini, pulang kuliah bersama teman-temannya. Kita nantangin Yoga, berani ngga nyanyiin lagu buat tuh cewe di depan umum. Dan yang dia lakukan? Dia ngambil gitar, manggil cewe itu yang kemudian menoleh ke sekre, masih bersama-sama teman-temannya. Dan saat itu pula, hamba cinta, teman gw yang satu itu mulai menyanyikan lagunya sheila on 7 tea “melihat tawamu…. Anugrah Terindah yang pernah kumiliki”. Well, gue ngga perlu menjelaskan bentuk tampang si cewe itu, dinyanyiin ama seseorang di depan teman-temannya, oleh cowo kaya Yoga pula, hu hu hu.

Curhat-curhat di malam-malam sekitar Sunken atau di sekitar rumah Yoga, mendefinisikan apa itu cinta, apa itu hamba cinta, menjelaskan keindahan bulan, berbicara tentang bintang, membahas syair-syairnya Katon dan Gibran, menyanyikan lagu-lagunya The Beatles, maen bola malam-malam, bakar daging babi, nonton VCD bokep, bikin interogasi, ngomporin orang buat nembak, dan sebagainya, dan sebagainya. Pokokna mah, lucu lah, ha ha ha.

I couldn’t describe what qualities of friendship I felt those days before. I mean, once you quantify a qualititative things, then you limits its qualifications. It’s something I felt, I experienced, I absorbed, and actively formed my thoughts, my principles, my feeling to be what I am now.

He’s always been a good friend. It’s me who hasn’t been a good one. Looking back to those old days, I just realised how girls distracted me. Well, I had this relationship with a girl, the one that until now I still consider the best part of my life. Frekuensi bergaul gue dengan kawan-kawan itu pun mulai berkurang. Tapi mereka gak pernah nolak gue bergabung kalo gue lagi bete. Waktu itu gue ngerasa, saking jarangnya gue hang-out ama mereka, kadang-kadang gue ngga ngerti apa yang mereka omongin. Orang-orang bilang, kalau elu mulai ngga ngerti apa yang dibicarakan oleh temen-temen elu, elu perlu mulai mempertimbangkan kualitas hubungan elu dengan mereka. Tapi dari yang gue alami, persetan apakah gue ngerti atau tidak dengan apa yang mereka omongkan, they still welcome me warmly, and I always feel I come back to a family, even until now.

So Ga, God knows which one of us has been a good friend. I’m quite sure I wasn’t but, I don’t take it seriously. Gue mungkin kegeeran, tapi gue tetap yakin seberapa pun tipisnya kuantitas interaksi kita dengan teman-teman yang dulu, kualitas yang sama masih tetap akan kita rasakan.

Anyway, gue jadi inget quote dari blog-nya anie… Ini dia nih .

You might be best friends one year,
pretty good friends the next year,
don’t talk that often the next year,
and never talk at all the year after that.

So, I just wanted to say,
even if I never talk to you again in my life,
you are special to me and you have made a difference in my life,
I look up to you, respect you, and truly cherish you.

p.s. well, I decided to dedicate this writing to old friends of mine, Yoga, Gultom, Andre, Yebe, Irwanda, David, Ganda, Kampeng, Bondra, Jimmy, Crisa si tangan dewa, Inge, Tjita, Cecil, Lontong, Marino, Ira, Agnes,Aloy,Magda, dan semua yang gua lupa sebutkan namanya. As Band of Brothers put, “I’m not a hero, but I serves with company of heroes”, I probably will say “I’m not a best friends, but I once lived with best companies found”. Call this sentimental, well, we’re sentimental once, and we’ll always be !!!