Archive for November, 2004

I read theories about friendship, I even invented some
But I’m so far away from the word “friend”
I hope He still give me time to be your good friend
(Hyoga)

Dude, what’s up with you? he he he
Is it a forwarded message? :P
Take it easy lah, as we always did
I ain’t no better either
(Ulus)

Jadi ceritanya gini. Seorang teman, teman lama waktu di kuliah dulu (buset, ternyata dua tahun lulus kuliah itu udah kerasa lama ya) tiba-tiba ngirim sms ke gue, out of the blue, berisi sms itu. Namanya Yoga, biasa disebut Hyoga sama anak-anak (well, dia sendiri yang invent namanya menjadi Hyoganovsky, entah nemu di mana itu anak).

Gue kenal Yoga di ITB, waktu masih sama-sama main di KMK. Waktu tingkat satu, pas gue masih culun-culunnya dan baru datang ke Bandung dari Medan tea, dan dia masih bergaul dengan kawan-kawannya dari SMA (anak Aloysius Bandung waktu itu), gue pernah menganggap dia dan teman-temannya tidak worthed untuk ditemani, tipikal anak gaul yang menyebalkan (waktu itu gue masih menganggap semua anak kota itu anak gaul, anak manja, dan tidak pantas ditemani, God forgive me :D ). Ternyata di kemudian hari, dia dan teman-teman akrabnya yang dulu gue anggap anak-anak gaul yang menyebalkan itu (Aryo, sempat di Perancis atau udah di Jakarta lagi ya?, dan Andre, si gila yang sekarang menggali laut di Ternate) turns out to be temen-temen yang sangat menyenangkan. So weird how prejudice can affect your action and how you see people. And worse, it often goes wrong.

Nah, gue mulai deket ama Yoga di tingkat dua, waktu kita sama-sama mulai terlibat di aktivitasi Keluarga Mahasiswa Katolik di ITB. Waktu itu gue lagi demen-demennya berorganisasi, dan ternyata dia dengan segala kegilaan dan kreatifitasnya adalah salah seorang teman yang sempurna waktu itu. Bukan cuma karena dia ganteng dan membuatnya digilai perempuan-perempuan di sekitarnya (sayangnya gue bukan termasuk dalam jenis itu, he he he), tapi juga karena dia punya energi, kreatifitas yang cukup, komitmen kuat, rasa humor yang cocok. Bersama salah satu bajingan lainnya, Vanda (gue lebih sering manggil dia Gultom), kita bertiga mulai menghuni KMK yang waktu itu mulai pertama kali memperoleh sekretariat resmi, seperti juga beberapa unit lain di ITB.

Bareng Yoga dan Gultom, gue mulai memformulasikan hal-hal gila dan aneh. Tentu dengan dukungan Aryo juga, yang waktu itu aktif di Unit Tenis dan berbagi sekretariat dengan KMK. Kami mulai merintis berbagai permainan, dari maen kartu, maen karambol *punya unit tenis yang sampai sekarang masih ada*, bikin buku komunikasi, sehingga dari bertiga, sekretariat pun mulai agak ramai, sampai menjadi sangat ramai. Secara pribadi, gue merasa kharisma Yoga serta kegilaan selera humor si Vanda adalah aspek penting dari mulai ramenya sekretariat waktu itu. I don’t feel i’m quite important actually, and that’s probably the reason why I was picked up to be chairman of KMK. Well, you can’t pick important people to a chairman of an organization, because once the chairman falls, the organization falls as well.

Tak hanya permainan, kami pun mulai merintis suatu organisasi di mana kami bertiga merasa senasib sepenanggungan, jomblo. Lahirlah KMK Jomblo Society, suatu organisasi informal tanpa bentuk :P , dengan semboyan menjomblokan masyarakat dan memasyarakatkan jomblo. Tidak tanggung-tanggung, kita nyusun anggaran dasar, membangun majalah dJomblie, majalah para jomblo, memasyarakatkan makar(makan-makan dan bakar-bakar), yang tujuan utamanya adalah bersenang-senang dengan cara makan-makan dan manggang daging di lingkungan kampus. Those are really good times. Dan orang-orang gila pun berdatangan. Jimmy, Kampeng, Yebe, David, Ganda, Irwanda, lalu Bondra, adalah beberapa dari mereka yang kemudian menjadi teman-teman yang tak lekang dimakan waktu (buset, bahasanya).

Satu hal yang paling gue rasa cocok dengan Yoga adalah melankolisnya. Dia adalah orang, yang dalam bahasa gua, “tau memperlakukan perempuan sehingga mereka merasa berharga dan dihargai”. Tidak gombal, walaupun waktu itu kita masih sering memformulasikan cara-cara aneh bagaimana mendapatkan cewek, menulis puisi-puisi garing dan membosankan, membangun Lentera, majalah komunikasi internal KMK ITB. Gue masih inget waktu itu kita lagi nongkrong-nongkrong di sekre. Dan lewatlah wanita ini,wanita terindah ini, pulang kuliah bersama teman-temannya. Kita nantangin Yoga, berani ngga nyanyiin lagu buat tuh cewe di depan umum. Dan yang dia lakukan? Dia ngambil gitar, manggil cewe itu yang kemudian menoleh ke sekre, masih bersama-sama teman-temannya. Dan saat itu pula, hamba cinta, teman gw yang satu itu mulai menyanyikan lagunya sheila on 7 tea “melihat tawamu…. Anugrah Terindah yang pernah kumiliki”. Well, gue ngga perlu menjelaskan bentuk tampang si cewe itu, dinyanyiin ama seseorang di depan teman-temannya, oleh cowo kaya Yoga pula, hu hu hu.

Curhat-curhat di malam-malam sekitar Sunken atau di sekitar rumah Yoga, mendefinisikan apa itu cinta, apa itu hamba cinta, menjelaskan keindahan bulan, berbicara tentang bintang, membahas syair-syairnya Katon dan Gibran, menyanyikan lagu-lagunya The Beatles, maen bola malam-malam, bakar daging babi, nonton VCD bokep, bikin interogasi, ngomporin orang buat nembak, dan sebagainya, dan sebagainya. Pokokna mah, lucu lah, ha ha ha.

I couldn’t describe what qualities of friendship I felt those days before. I mean, once you quantify a qualititative things, then you limits its qualifications. It’s something I felt, I experienced, I absorbed, and actively formed my thoughts, my principles, my feeling to be what I am now.

He’s always been a good friend. It’s me who hasn’t been a good one. Looking back to those old days, I just realised how girls distracted me. Well, I had this relationship with a girl, the one that until now I still consider the best part of my life. Frekuensi bergaul gue dengan kawan-kawan itu pun mulai berkurang. Tapi mereka gak pernah nolak gue bergabung kalo gue lagi bete. Waktu itu gue ngerasa, saking jarangnya gue hang-out ama mereka, kadang-kadang gue ngga ngerti apa yang mereka omongin. Orang-orang bilang, kalau elu mulai ngga ngerti apa yang dibicarakan oleh temen-temen elu, elu perlu mulai mempertimbangkan kualitas hubungan elu dengan mereka. Tapi dari yang gue alami, persetan apakah gue ngerti atau tidak dengan apa yang mereka omongkan, they still welcome me warmly, and I always feel I come back to a family, even until now.

So Ga, God knows which one of us has been a good friend. I’m quite sure I wasn’t but, I don’t take it seriously. Gue mungkin kegeeran, tapi gue tetap yakin seberapa pun tipisnya kuantitas interaksi kita dengan teman-teman yang dulu, kualitas yang sama masih tetap akan kita rasakan.

Anyway, gue jadi inget quote dari blog-nya anie… Ini dia nih .

You might be best friends one year,
pretty good friends the next year,
don’t talk that often the next year,
and never talk at all the year after that.

So, I just wanted to say,
even if I never talk to you again in my life,
you are special to me and you have made a difference in my life,
I look up to you, respect you, and truly cherish you.

p.s. well, I decided to dedicate this writing to old friends of mine, Yoga, Gultom, Andre, Yebe, Irwanda, David, Ganda, Kampeng, Bondra, Jimmy, Crisa si tangan dewa, Inge, Tjita, Cecil, Lontong, Marino, Ira, Agnes,Aloy,Magda, dan semua yang gua lupa sebutkan namanya. As Band of Brothers put, “I’m not a hero, but I serves with company of heroes”, I probably will say “I’m not a best friends, but I once lived with best companies found”. Call this sentimental, well, we’re sentimental once, and we’ll always be !!!

Alicia Keys Lyrics
If I Ain’t Got You Lyrics

Some people live for the fortune
Some people live just for the fame
Some people live for the power yeah
Some people live just to play the game
Some people think that the physical things
Define what’s within
I’ve been there before
But that life’s a bore
So full of the superficial

Some people want it all
But I don’t want nothing at all
If it ain’t you baby
If I ain’t got you baby
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain’t got you

Some people search for a fountain
Promises forever young
Some people need three dozen roses
And that’s the only way to prove you love them

And in a world on a silver platter
And wondering what it means
No one to share, no one who truly cares for me

Some people want it all
But I don’t want nothing at all
If it ain’t you baby
If I ain’t got you baby
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain’t got you

Some people want it all
But I don’t want nothing at all
If it ain’t you baby
If I ain’t got you baby
Some people want diamond rings
Some just want everything
But everything means nothing
If I ain’t got you

If I ain’t got you with me baby
Nothing in this whole wide world don’t mean a thing
If I ain’t got you with me baby

===

Pertanyaannya adalah, siapakah yang akan jadi you?

My mama said
You can’t hurry love
No, you’ll just have to wait
She said love don’t come easy
But it’s a game of give and take
(Phil Collins, You Can’t Hurry Love)

Guys, pa khabar semuah? :D . Dah lama ga ngisi blog. Sekali ini gw mo ngisi blog dengan resensi buku ah. Kemarin di semarang beli buku buat baca-baca di kereta, trus terdorong untuk bikin resensinya. Sorry, resensinya masih berantakan, maklum ini resensi gw yang pertama setelah sekian tahun ngga nulis resensi lagi. Dulu juga masih berantakan sih, he hehe (Ga ada perubahan pisan !!!). So, enjoy, dan mudah-mudahan elu tertarik beli gara-gara baca resensi gue :p *Geer pisan*

Resensi Buku :

Judul Asli : *ndak tau*
Pengarang : Duong Thu Huong
Judul (Indonesia) : Menembus Mimpi Hampa
Judul ( Bahasa Inggris): Beyond Illusions
Alih Bahasa ke Bahasa Inggris : Nina McPherson dan Phan Huy Duong
Alih bahasa dari bahasa Inggris : Landung Simatupang
Penerbit : IndonesiaTera, 2004
Harga : 50 rebu waktu gw beli mah :p
Bisa dibeli di : Gramedia yang pasti mah (bukan iklan)

Bersama-sama telah mereka tempuh tahun-tahun indah. Kemudian, suatu hari, dia mengetahui kebohongan-kebohongan yang telah dipublikasikan lelaki itu dalam tulisan-tulisannya, kemuakan rekan-rekan sejawatnya, lucon-lucon yang beredar setelah perjalanan-perjalanannya, alasan di balik segala promosi dan kenaikan gajinya. “Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri”: orang yang mengucapkan kata-kata itu kini sudah berkompromi dengan dirinya sendiri. Pria dengan mata berbinar-binar itu, suasana merenung dan lembut dalam penampilannya itu, telah takluk, menyerah. Nguyen sudah menghancurkan segala sesuatu yang pernah diyakini Linh, membunuh cinta mereka dengan sekali pukul.

Linh, seorang perempuan yang meyakini ideal-ideal tentang prinsip seseorang, dan tak pernah berkompromi sedikit pun, telah memilih menikah dengan Nguyen, seorang dosen muda literatur yang pada masa bujangnya adalah seorang yang sangat idealis, eksentrik, cerdas, dan memiliki gudang pengetahuan yang luas tentang literatur-literatur sastra. Linh bersedia meninggalkan seorang kaya yang telah dijodohkan untuknya, dan memilih hidup miskin dengan Nguyen, yang kemudian menjadi seorang wartawan.

Semuanya menjadi berantakan ketika kemudian Linh mengetahui bahwa Nguyen ternyata telah mengkhianati ideal-ideal yang dia yakini sendiri. Bagi Linh, Nguyen telah menjadi kompromis. Menulis apa yang ingin dibaca oleh pemerintah, menafikan apa sebenarnya terjadi di masyarakat, demi memperoleh promosi dan kenaikan gaji. Ia telah menjadi pengkhianat bagi apa yang dipercayai Linh, dan dengan demikian menghancurkan cinta Linh kepadanya.

Bagi Nguyen sendiri, kompromi yang dia lakukan, tak lebih adalah suatu kompromi ekonomi. Ketika mereka telah mulai punya anak, dengan dorongan kebutuhan yang meningkat, bagaimanapun dapur harus tetap mengebul. Kenyataan pemerintah komunis Vietnam yang menginginkan agar berita hanya menyiarkan madu, keberhasilan-keberhasilan semu, telah menyensor tulisan-tulisannya yang kritis. Dan karena dorongan ekonomi saja, keinginan untuk membahagiakan Linh, satu-satunya perempuan yang dicintainya, serta anak mereka, Huong Ly, maka ia memutuskan untuk meminggirkan semua kekritisan, dan menulis apa yang ingin dibaca oleh pemerintah.

Tapi bagi Linh, tidak ada kompromi untuk ideal yang dia yakini. Begitu hilang semua kekaguman kepada Nguyen, saat itu pula hilang cinta. Linh meninggalkan Nguyen. Dalam jiwa yang rapuh, Linh berkenalan dengan Tran Phuong, seorang komposer playboy tua yang sedang ingin kembali ke masa kejayaannya. Linh pun tersihir dengan segala ideal yang dilihatnya dari sang komposer, yang adalah seorang aktor ulung. Dalam kehangatan dan kedewasaan yang dirasakan Linh dalam diri sang komposer, Linh pun jatuh dalam perselingkuhan. Padahal bagi Tran Phuong sendiri, Linh tak lebih hanya sebuah batu kecil. Kemudaan Linh hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi limpahan nafsu si komposer.

Nguyen sendiri kemudian bukan tak berselingkuh. Ia berselingkuh dengan Ngoc Minh, seorang perempuan “easy going” yang bergaul dengan lelaki mananpun yang dia inginkan. Seorang yang sesungguhnya sangat cerdas, tapi tak berpikir apapun tentang keseriusan sebuah hubungan. Ngoc Minh adalah seorang hedonis, yang bersenang-senang kapan pun, dan dengan siapapun dia mau. Tapi perjalanan Nguyen kemudian menyimpulkan betapa dia tidak bisa mencintai perempuan lain selain Linh, dan dia meninggalkan Ngoc Minh. Duong Thu Hong mengungkapkan penyadaran Nguyen dalam bahasa yang sangat gw suka di halaman 343 :

Untuk mencintai kita perlu gairah birahi, tetapi juga rasa hormat. Sekali waktu seseorang pernah mengatakan padaku bahwa yang dibutuhkan untuk membina kebahagiaan yang langgeng adalah seorang perempuan yang mengagumi dan menghormati suaminya. Tetapi sekarang, aku tahu itu keliru. Kebahagiaan jauh lebih sulit diraih. Seperti menyeberangi titian gantung; titian itu ringkih, goyah, dan tanpa pagar pinggir tempat berpegangan. Harus kita temukan keseimbangan kita sendiri. Dan untuk bisa begitu, tumpuannya harus pada dua titik berat, pada dua orang yang berpasangan.

Nguyen pun akhirnya menemukan kembali ideal yang telah dia tinggalkan sekian lama, dan memutuskan untuk menjadi apa yang dulu ia lakukan, menjadi penulis intelektual yang kritis.

Linh sendiri akhirnya melihat kenyataan Tran Phuong yang sesungguhnya. Sementara dengan Nguyen sendiri, meskipun jauh di dalam hati keduanya, mereka ingin saling memaafkan, tapi yang muncul di permukaan adalah harga diri dan keangkuhan. Tak pelak, bukannya rujuk, melainkan surat cerai itu pun akhirnya ditanda-tangani.

Komentar :

Buat gue, buku ini menawarkan suatu permenungan yang menarik tentang idealisme. Bagaimana kita kerap kali memiliki idealisme-idealisme sendiri, dan apa yang akan kita lakukan ketika idealisme itu kemudian berbenturan dengan kenyataan hidup, dengan urusan perut. Apakah idealisme itu kemudian harus berkompromi?

Latar belakang penerjemah, Landung Simatupang, yang adalah seorang sastrawan, sangat membantu menampilkan wajah buku ini dalam sebuah novel sastra yang puitis, walaupun sebuah novel terjemahan. Sayang ngga punya buku aslinya (kayanya kalo beli pun mahal, jadi mendingan beli terjemahan deh). Perdebatan-perdebatan filosofis tetap banyak ditemukan, tetapi Landung dapat mengemasnya dalam dialog-dialog yang menurut gue menarik, walaupun di satu dan lain pihak tetap terasa seperti sebuah kuliah filsafat. Tapi apa mau dikata, novel ini sendiri memiliki dimensi politis yang cukup berat, setidaknya dari apa yang dikatakan oleh si penerjemah, Nina MacPershon.

Terlepas dari dimensi politisnya, bagaimanapun, gw merasa tidak sreg dengan bagaimana gampangnya Linh jatuh dalam pelukan Tran Phuong. Sejak awal Linh digambarkan adalah seorang wanita cerdas, yang dapat melihat logika yang jelas ketika mengungkapkan kebenciaannya pada kompromi Nguyen kepada dirinya. Tapi berdekatan dengan Tran Phuong, tidak ada (menurut gue lho) pertimbangan logis apapun yang telah dibuat oleh Linh, setidaknya dari yang gue lihat, untuk menimbang dan menelaah pria semacam apakah Tran Phuong itu sebenarnya. Seolah-olah sebuah dorongan kesedihan yang begitu besar, yang membuat Linh menerima dan menyerahkan diri pada Tran Phuong, tanpa mengedepankan logikanya sendiri. Atau, apakah itu suatu justifikasi, bahwa ketika cinta itu datang, logika pun jadi berantakan? Bisa jadi :D

Anyway, buat gue buku ini masuk dalam daftar buku yang gw rekomendasikan untuk dibaca. So guys, go hunt :)

Tentang Pengarang :

Dhuong Thu Huong lahir di Vietnam, tahun 1947. Pada usia 20 tahun, dia memimpin sebuah Brigade Pemuda Komunis yang dikirim ke garis depan semasa Perang Vietnam. Dari kelompok sukarela beranggota 40 orang itu, perempuan ini adalah satu di antara tiga yang bertahan hidup. Vokal memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan reformasi demokrasi, Huong dikeluarkan dari Partai Komunis tahun 1990, tak lama setelah ditahan dan dipenjara tanpa diadili selama tujuh bulan, tahun 1991. Pengaran ini terus tinggal dan menulis di Hanoi (dikutip dari buku)

Sulamedh berlibur, sodara-sodara